Jl. Pematang Siantar No.111, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut

Algoritma Tidak Punya Wajah

Penulis: Agnes Teresia Erel Sihaloho, Stasi St. Martinus Perbaungan
(Lomba Menulis Opini – Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 – Komsos Keuskupan Agung Medan)

Refleksi tentang Suara dan Wajah Manusia di Era Kecerdasan Buatan

Beberapa waktu lalu, saya duduk di ruang kelas untuk mengikuti sesi presentasi tugas kelompok. Lembar demi lembar materi dipaparkan, dan suara pemateri terdengar lancar serta tersusun rapi. Namun, ketika sesi tanya jawab dimulai, terjadi hal yang cukup mengejutkan. Seorang rekan yang sebelumnya terlihat percaya diri, tiba-tiba tampak kesulitan menjawab pertanyaan. Ia justru membaca jawaban dari layar ponselnya. Ternyata, materi yang disampaikan sebelumnya bukan sepenuhnya hasil pemikirannya, melainkan berasal dari kecerdasan buatan yang hanya disusun ulang dengan kata-katanya sendiri.

Saya merasa heran sekaligus prihatin. Bukan karena hasilnya tidak bagus, tetapi karena ada sesuatu yang terasa hilang—keingintahuan yang tulus dan keberanian untuk berpikir secara mandiri. Tidak ada upaya untuk benar-benar memahami materi atau mengajukan pertanyaan yang bermakna. Bahkan, jawaban yang diberikan pun tidak menunjukkan pemahaman yang mendalam. Seolah-olah, mesin lebih dominan dalam menyampaikan informasi, sementara manusia hanya menjadi penyampai tanpa makna.

Peristiwa kecil tersebut membantu saya memahami secara lebih konkret pesan yang disampaikan oleh Paus Leo XIV dalam Hari Komunikasi Sosial ke-60, bahwa wajah dan suara manusia bukan sekadar aspek biologis, melainkan ungkapan jati diri yang unik dan tidak tergantikan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei), sehingga setiap individu memiliki keunikan yang tidak dapat disalin oleh teknologi.

Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa penggunaan kecerdasan buatan tanpa sikap kritis dapat mengaburkan jati diri manusia. Alih-alih memperkuat identitas, teknologi justru berpotensi “menyembunyikan wajah” manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kecerdasan buatan seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti pemikiran pribadi. Keunikan manusia tidak boleh dikalahkan oleh kemudahan yang ditawarkan teknologi.

Ketika Suara Manusia Digantikan oleh Mesin

Fenomena yang terjadi di ruang kelas tersebut tidak bisa dianggap sepele. Hal ini mencerminkan persoalan yang lebih mendasar, yaitu menurunnya kejujuran akademik. Sesi tanya jawab dalam presentasi seharusnya menjadi ruang untuk menguji pemahaman dan melatih keberanian berpikir. Namun, jika jawaban hanya bergantung pada mesin, maka proses belajar kehilangan maknanya.

Ruang kelas seharusnya menjadi tempat bagi lahirnya pemikiran yang jujur, kritis, dan autentik. Di sanalah manusia belajar untuk menyampaikan gagasan dengan keberanian, meskipun belum sempurna. Ketidaksempurnaan justru menjadi bagian penting dari proses belajar. Dengan demikian, penggunaan teknologi harus tetap disertai tanggung jawab, agar tidak menghilangkan esensi kemanusiaan dalam proses pendidikan untuk saling bertemu dan berkembang. Ketika pertanyaan dan jawaban sama-sama berasal dari mesin, momen tersebut kehilangan maknanya. Tidak ada lagi perjumpaan yang nyata, tidak ada kerentanan, dan tidak ada keterlibatan pribadi. Yang tersisa hanyalah pertukaran teks yang diproses secara otomatis, tanpa sentuhan kemanusiaan.

Paus Leo XIV juga menegaskan bahwa menghindari usaha berpikir secara mandiri dan merasa cukup dengan hasil olahan mesin, dalam jangka panjang, dapat melemahkan kemampuan kognitif, emosional, dan komunikasi manusia. Hal ini tampak jelas dalam pengalaman tersebut. Rekan yang mengajukan pertanyaan tidak sepenuhnya memahami apa yang ditanyakannya, sementara pemateri juga tidak benar-benar menguasai jawaban yang disampaikannya. Keduanya mungkin berhasil melewati sesi presentasi, tetapi tidak mengalami proses belajar yang sesungguhnya.

Imago Dei dan Bahaya “Dunia Cermin”

Dalam diskusi mengenai kecerdasan buatan, dimensi teologis sering kali terabaikan, padahal di situlah letak persoalan yang paling mendasar. Manusia diciptakan menurut gambar Allah bukan karena kesempurnaannya, melainkan karena panggilannya untuk hidup dalam relasi dengan Allah dan sesama.

Sebaliknya, kecerdasan buatan bekerja dengan logika yang berbeda. Sistem ini dirancang untuk meminimalkan gesekan dengan mempelajari data, kebiasaan, dan preferensi pengguna, lalu menghasilkan respons yang sesuai dengan harapan pengguna. Dari proses ini lahirlah “dunia cermin”, yaitu ruang yang tidak benar-benar mempertemukan manusia dengan orang lain, melainkan hanya memantulkan kembali dirinya sendiri dalam bentuk yang lebih rapi dan meyakinkan. Cermin digital ini tidak hanya memantulkan, tetapi juga memperkuat pantulan tersebut tanpa menghadirkan kritik atau perbedaan, sehingga manusia terbiasa hidup dalam ruang yang selalu mengiyakan dirinya.

Keadaan ini bertentangan dengan makna Imago Dei. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, bukan menurut kehendak manusia sendiri. Perjumpaan yang sejati selalu melibatkan perbedaan dan bahkan ketegangan, yang justru memungkinkan pertumbuhan. Dalam perjumpaan dengan yang berbeda, manusia belajar untuk mendengarkan, memahami, dan mengasihi—sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh sistem yang hanya mengulang dirinya sendiri. Oleh karena itu, kecerdasan buatan yang selalu menyesuaikan diri tidak dapat menjadi mitra dialog yang sejati.

Jika kondisi ini terus berlanjut, manusia berisiko kehilangan kemampuan untuk berjumpa secara autentik dan hanya terjebak dalam gema dirinya sendiri.

Gereja sebagai Ruang Perjumpaan Nyata

Dalam situasi ini, Gereja diharapkan mampu menghadirkan jawaban yang konkret. Di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat, Gereja perlu menegaskan kembali pentingnya kehadiran nyata dalam relasi, yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar representasi atau pantulan.

Dalam perayaan Ekaristi, umat hadir secara fisik dan berhadapan satu sama lain. Dalam doa bersama dan homili, terbangun komunikasi yang tidak dapat digantikan oleh sistem digital. Dalam sakramen pengakuan dosa, seseorang hadir secara pribadi untuk mengungkapkan diri dengan kejujuran dan kerendahan hati. Semua pengalaman ini menegaskan bahwa kedalaman relasi manusia tidak dapat dipisahkan dari kehadiran nyata.

Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, Gereja memiliki peran penting untuk menjaga nilai-nilai tersebut. Gereja diingatkan bahwa manusia bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan pribadi yang dipanggil untuk berelasi secara autentik.

Memilih untuk Tetap Hadir

Tulisan ini tidak bermaksud menolak keberadaan kecerdasan buatan. Teknologi merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak dapat dihindari. Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijaksana.

Di lingkungan akademik, hal ini berarti keberanian untuk berpikir mandiri, mengajukan pertanyaan dengan bahasa sendiri, serta menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman pribadi. Ketidaksempurnaan dalam proses tersebut justru merupakan bagian penting dari pembelajaran. Dalam kehidupan beriman, hal ini berarti kesediaan untuk hadir secara nyata dalam komunitas, membuka diri terhadap perjumpaan dengan sesama, serta membangun relasi yang tidak hanya didasarkan pada kenyamanan semata.

Pada akhirnya, seperti diingatkan dalam Hari Komunikasi Sosial ke-60, menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga martabat manusia itu sendiri. Manusia tidak boleh kehilangan wajah dan suaranya karena menyerahkannya sepenuhnya kepada mesin. Jika hal itu terjadi, manusia tidak hanya kehilangan cara berkomunikasi, tetapi juga kehilangan jati dirinya.

Artikel lainnya

Pentakosta: Roh Kudus yang Membaharui dan Mengutus Kita

Hari Raya Pentakosta dirayakan 50 hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Secara historis, peristiwa ini bersentuhan dengan tradisi Yahudi yang merayakan pesta panen, namun bagi...

Di Tengah Kecerdasan Buatan, Masihkah Kita Punya Suara dan Wajah sebagai Manusia?

Penulis : Chyintya Br Sitepu, Stasi St. Antonius Galang(Lomba Menulis Opini - Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 - Komsos Keuskupan Agung Medan Hari ini, dunia...

Pelaksanaan Program Pelayanan Pastoral Tahun 2025

Beberapa hal yang disebutkan di bawah ini menjadi sarana penting yang dapat sekaligus menjadi data kronologi perjalanan sejarah Paroki Gembala yang Baik Lubuk Pakam. A....

Menjadi Saksi Kenaikan: Mengubah Keraguan Menjadi Perutusan Nyata

Hari Raya Kenaikan Tuhan sering kali menjadi momen yang ironis dalam penanggalan liturgi kita. Di satu sisi, ini adalah peristiwa mulia yang menandai kemenangan...
Daftar Isi