Referensi: Homili RD Rafael H. Sirait

Dalam hidup ini, ada saat-saat di mana kata-kata tidak lagi cukup untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan. Ketika kesedihan datang begitu mendalam—seperti kehilangan orang tua yang dicintai—sering kali kita merasa tertekan dan hampa. Dalam situasi seperti itu, jiwa kita sebenarnya sedang berteriak mencari satu hal sederhana namun penuh kuasa: sebuah pelukan.
Kekuatan Sebuah Pelukan: Energi dan Penyembuhan
Manusia adalah makhluk yang secara psikologis membutuhkan peneguhan melalui kehadiran fisik orang lain. Sebuah pelukan bukan sekadar sentuhan fisik; ia adalah simbol dari perhatian, penyerahan diri, dan energi yang memberikan kekuatan saat kita merasa tak berdaya. Bahkan bagi mereka yang terbiasa hidup sendiri atau memiliki peran sebagai pemimpin rohani, kerinduan untuk dipeluk dan diterima adalah kebutuhan manusiawi yang normal.
Di dalam keluarga, pelukan memiliki peran yang sangat krusial:
- Bagi Suami Istri: Jangan pernah malu atau sungkan untuk saling memeluk. Pelukan adalah tanda pemberian diri dan penyembuhan bagi pasangan.
- Bagi Orang Tua dan Anak: Ketika anak-anak mulai beranjak dewasa, mereka mungkin mulai menjauh atau merasa sungkan. Namun, sebenarnya mereka tetap merindukan “genggaman” dan kasih sayang orang tuanya. Jangan biarkan mereka berjalan terlalu jauh sendirian; tetaplah dekap mereka dalam perhatian agar mereka tidak kehilangan arah.
Mendengar Sabda Tuhan melalui “Sabda Alam”
Tuhan tidak hanya berbicara melalui Kitab Suci, tetapi juga melalui keseharian dan alam di sekitar kita. Kita diajak untuk belajar dari perumpamaan sederhana tentang mata lebah dan mata lalat:
- Lebah selalu mencari bunga yang indah dan madu yang manis. Ia mengambil yang baik untuk dirinya sendiri dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Ini adalah teladan untuk selalu berpikir positif dan mencari kebaikan dalam segala situasi.
- Lalat selalu mencari yang busuk dan kotor. Ia mengambil keburukan lalu menyebarkan penyakit bagi sekitarnya.
Tuhan bersabda kepada kita melalui kehadiran sesama, baik mereka yang hadir membawa kebaikan seperti lebah maupun tantangan seperti lalat. Setiap pengalaman, entah itu manis atau pahit, adalah cara Tuhan berbicara agar kita semakin peka dalam mendengar dan melihat kehendak-Nya.
Apakah Kita Benar-benar Merindukan Surga?
Sering kali kita datang ke gereja dengan setumpuk permintaan duniawi. Kita seolah-olah “mengiming-imingi” Tuhan agar memberikan apa yang kita inginkan: kekayaan, kesehatan, atau kesuksesan bisnis. Namun, apakah kita benar-benar merindukan tujuan akhir kita, yaitu Surga?
Kerinduan akan kehidupan kekal seharusnya menjadi kebutuhan utama kita di dunia ini. Jika kita benar-benar rindu akan surga, kita akan berusaha menemukan kebaikan bahkan dari pengalaman terburuk sekalipun. Sebaliknya, jika surga tidak lagi menjadi fokus, kita akan mudah terjatuh ke dalam tipu daya, iri dengki, korupsi, dan kebencian karena kita hanya peduli pada kenikmatan sementara di dunia.
Ada ironi di mana banyak orang mengaku ingin masuk surga, tetapi ketika ditanya siapa yang mau bertemu Tuhan sekarang, mereka justru takut. Ini menunjukkan bahwa surga sering kali belum menjadi kerinduan yang sejati dalam hati kita.
Penutup: Jangan Berhenti di Tengah Jalan
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Perjalanan menuju rumah Bapa mungkin melelahkan dan penuh tantangan, namun janganlah kita berhenti atau tertidur di tengah jalan karena kenyamanan duniawi yang semu.
Tujuan akhir kita jauh lebih mulia dan damai daripada apa pun yang bisa ditawarkan dunia. Mari kita olah hati kita menjadi tanah yang subur, agar Sabda Tuhan yang kita dengar setiap hari dapat tumbuh, berbuah, dan menjadi berkat bagi sesama. Jadilah “sabda yang hidup” bagi orang-orang di sekitar kita melalui kasih dan perhatian yang nyata.
Tuhan memberkati keluarga kita semua. Amin.

