Ayat Alkitab Acuan: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penyabit: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berberkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Matius 13:30)
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Dalam perjalanan hidup beriman, kita sering kali mendambakan sebuah lingkungan yang ideal—keluarga yang sempurna, komunitas yang tanpa cela, atau diri yang bebas dari dosa. Namun, realitas sehari-hari sering kali berkata lain. Sering kali kita menemukan “rambut di atas makanan” kita; ada hal-hal buruk atau gangguan yang muncul di tengah situasi yang baik. Kecenderungan manusiawi kita adalah segera membuang atau membinasakan apa pun yang dianggap buruk tersebut. Namun, melalui perumpamaan tentang gandum dan lalang dalam Matius 13, Tuhan Yesus mengajak kita untuk memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai Kerajaan Allah.
Realitas Kebaikan dan Kejahatan yang Berdampingan Dalam perumpamaan tersebut, Yesus menjelaskan bahwa meskipun benih yang ditaburkan adalah benih baik, musuh datang dan menaburkan lalang di antaranya. Di dunia ini, kebaikan dan kejahatan akan selalu ada dan sering kali tumbuh berdampingan, baik dalam masyarakat, komunitas, bahkan di dalam diri kita sendiri. Terkadang kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak segera “mencabut” segala kejahatan tersebut? Mengapa orang jahat tampak masih bebas, sementara orang benar berjuang?.
Sumber kita mengingatkan bahwa Tuhan adalah pemilik ladang yang bijaksana. Ia berkata, “Biarkan saja dulu”. Mengapa demikian? Karena Allah memahami kelemahan manusia yang tidak selalu setia. Jika kita terburu-buru menghakimi dan “mencabut” mereka yang kita anggap buruk, jangan-jangan kita juga ikut merusak gandum-gandum yang sedang bertumbuh. Allah memberikan waktu dan kesempatan bagi setiap orang untuk bertobat.
Anugerah Kebebasan dan Akal Budi Keistimewaan kita sebagai manusia adalah adanya kehendak bebas. Tuhan tidak memaksakan kebaikan kepada kita tanpa memberi ruang bagi pilihan pribadi kita. Sebagai modal dasar, kita dikaruniai akal budi—rahmat terbesar yang harus kita gunakan untuk menimbang mana yang jahat dan mana yang baik agar kita tetap berdiri di pihak kebaikan.
Meskipun dalam diri manusia ada kecenderungan untuk jatuh ke dalam dosa (concupiscence), rahmat Allah jauh lebih besar untuk memampukan kita tetap bercahaya seperti matahari dalam karya dan pekerjaan kita. Tugas utama kita bukanlah terus-menerus sibuk mencari “kambing hitam” untuk disingkirkan, melainkan fokus pada perjuangan pribadi untuk mewujudkan karya Kristus dalam hidup kita.
Panggilan untuk Berbuah dan Menjadi Ragi Menjadi seorang Kristen berarti menjalani proses pertobatan yang terus-menerus. Kita dipanggil bukan untuk menjadi lalang yang mengganggu, melainkan menjadi gandum yang tumbuh dari benih yang baik, bertunas, dan akhirnya berbuah bagi orang lain.
Kehadiran kita di dunia seharusnya menjadi seperti ragi dalam adonan. Walaupun perbuatan baik, kekudusan, dan kesetiaan kita tidak selalu dipuji atau tampak luar biasa di mata manusia, hal-hal tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi sesama dan menjadi harta gereja yang sejati.
Penutup Tuhan menyayangi kemanusiaan kita dan Ia tidak pernah langsung menutup pintu saat kita jatuh. Ia memberi kita waktu untuk mempertimbangkan segala perbuatan kita dan menerima kita kembali dengan kasih-Nya yang maha pengampun.
Marilah kita gunakan waktu yang terbatas ini untuk memperkuat kesatuan kita dengan Kristus, terutama melalui sakramen-sakramen yang telah kita terima, agar pada musim tuai nanti, kita layak dikumpulkan sebagai gandum yang berguna bagi kemuliaan-Nya.
Semoga kita sungguh membawa diri kita kepada kesetiaan, menghasilkan buah-buah yang baik, dan menjadi berkat bagi dunia.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Referensi : Homili RD Sudi Monang Sinaga – 18 Juli 2026

