“Harta yang paling berharga adalah keluarga…”
Lirik lagu dari kisah “Keluarga Cemara” tersebut sering kali bergema di telinga kita sebagai pengingat akan berkat Tuhan yang paling nyata. Ketika orang tua membawa anak-anak mereka untuk menerima Sakramen Baptis, gereja turut bersukacita karena keluarga tersebut telah menyadari dan mengakui bahwa anak-anak mereka adalah harta yang paling berharga dan mutiara yang indah.
Baptisan: Menemukan Harta yang Terpendam
Dalam Injil Matius, Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Surga yang seumpama harta terpendam di ladang atau seorang saudagar yang mencari mutiara indah. Bagi orang tua yang baru membaptiskan anaknya, momen ini adalah penemuan “harta” tersebut. Melalui baptisan, anak-anak tidak hanya menjadi bagian dari populasi dunia, tetapi secara resmi menjadi anggota Gereja.
Namun, memiliki harta yang berharga ini menuntut sebuah perjuangan. Sama seperti orang dalam perumpamaan yang menjual seluruh miliknya demi membeli mutiara itu, menjadi orang tua kristiani berarti berani melepaskan banyak hal demi masa depan rohani anak-anak. Ini bisa berarti melepaskan gaya hidup mewah, ego pribadi, atau kebiasaan buruk demi memberikan teladan yang baik.
Memohon Roh Hikmat untuk Orang Tua
Tugas mendidik anak dalam iman bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu, orang tua perlu belajar dari Raja Salomo yang tidak meminta kekayaan, melainkan memohon Roh Hikmat. Roh hikmat ini sangat penting bagi orang tua untuk membedakan mana yang baik dan buruk, serta mana yang benar dan salah dalam mendidik putra-putri mereka.
Kehadiran putra-putri di tengah keluarga adalah panggilan untuk menyatukan iman orang tua dengan anak dalam nama Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Keyakinan inilah yang harus menjadi dasar utama dalam membangun rumah tangga.
Membangun “Gereja Rumah Tangga” yang Sederhana
Iman tidak hanya dirayakan di gereja, tetapi harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan-kebiasaan rohani yang sederhana. Beberapa praktik yang dapat dilakukan keluarga antara lain:
- Membiasakan Tanda Salib: Mengajari anak membuat tanda salib sebelum berangkat sekolah atau beraktivitas.
- Menyediakan Air Suci di Rumah: Memberkati anak-anak dengan air suci sebagai tanda perlindungan dan pengingat akan rahmat baptisan mereka.
- Beribadah Bersama: Membiasakan duduk bersama sebagai keluarga saat merayakan Ekaristi di gereja, bukan terpisah-pisah, agar anak memiliki kerinduan untuk selalu dekat dengan Tuhan.
Jangan ragu untuk membawa anak-anak ke gereja meskipun terkadang mereka membuat kegaduhan. Gereja adalah tempat bagi semua anggota keluarga untuk hidup bersama dalam doa; jika kita menginginkan ketenangan mutlak, mungkin tempatnya adalah di hutan, tetapi gereja adalah tempat di mana kehidupan dan iman bertumbuh bersama.
Penutup
Baptisan anak adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Semoga para orang tua sungguh menjadi sosok yang patut diteladani karena kebijaksanaan yang diwariskan kepada anak-anak. Ingatlah bahwa Kerajaan Surga bukanlah sesuatu yang jauh di masa depan setelah kematian, melainkan kehadiran damai, cinta, dan keadilan yang kita mulai bangun dalam keluarga kita saat ini.
Selamat atas baptisan putra-putri Bapak dan Ibu. Tuhan memberkati keluarga kita semua. Amin.
Referensi : Homili RD Sudi Monang Sinaga – 25 Juli 2026, Misa Malam Minggu

