
Pengantar
Tonggak sejarah Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Keuskupan Agung Medan. Kesatuan antara Paroki dan Keuskupan merupakan suatu simbol yang tidak bisa dilupakan, sebab yang mendirikan Paroki ialah Uskup. Oleh karena itu, kehadiran pelayanan Uskup sebagai gembala utama ditampakkan dalam diri para gembala di setiap paroki melalui karya pelayanan: panca tugas Gereja.
Dengan alasan tersebut, kami tim penyusun Buku Kenangan ini akan mengisahkan sekilas torehan kisah perjalanan para misionaris pendahulu di Sumatera-Keuskupan Agung Medan ini. Kemudian, kita akan melihat kisah perjalanan Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam bersama dengan kisah perkembangan stasi-stasi yang tergabung dalam batas-batas wilayah reksa pastoral Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam.
Agama katolik diyakini sudah masuk ke indonesia sekitar abad ke-7. Keyakinan itu berasal dari para ahli sejarah tertulis dari daerah arab yang memastikan bahwa tahun 645 Masehi sudah ada gereja katolik di dekat barus, Tapanuli Tengah dengan nama Gereja Perawan Suci. Namun sayang riwayat Agama Katolik yang terdapat di tempat itu tidak berlanjut dan hilang tak berbekas. Jejaknya pun tidak dapat ditelusuri selain dari naskah kuno tulisan orang Arab seperti disebut diatas. Oleh karena itu disepakati secara historis bahwa awal masuknya agama katolik ke Indonesia ketika Fransiskus Xaverius singgah di Maluku dalam perjalanan ke Tiongkok. Sejak itulah sejarah agama katolik di indonesia berlanjut dan berkembang sampai kini.
Penyebaran ajaran iman Katolik di tanah Sumatera sangat terbantu oleh kebijakan pemerintah Hindia dan Belanda. Pada permulaan abad ke-19, Pemerintah Belanda yang menguasai Kepulauan Nusantara memberi izin kepada para misionaris Katolik memasuki wilayah Nusantara. Akan tetapi, misionaris yang boleh masuk adalah mereka yang berkebangsaan Belanda. Persyaratan lain yang diatur ialah bahwa misi Katolik tidak boleh dilaksanakan di daerah-daerah yang sudah dimasuki oleh zending Protestan.
Dengan semakin terbukanya peluang bagi para misionaris itu, para imam Eropa tiba pertama kali di daerah Sumatera pada tahun 1830. Bertolak dari Padang, mereka mewartakan Injil ke Nias. Beberapa misionaris awal yang tercatat ialah Pastor Bernard (meninggal tahun 1832) dan Pastor Vallon (meninggal tahun 1832). Keduanya berkebangsaan Perancis dan makamnya masih ada sampai sekarang di Gunung Sitoli Nias. Perkembangan itu semakin subur dengan adanya pengembangan usaha perkebunan tembakau di daerah Pantai Timur Sumatera di daerah Deli Serdang.
Perkembangan Gereja Katolik di Medan
Seiring dengan pengembangan usaha perkebunan tembakau di Pantai Timur Sumatera, peluang pewartaan Kabar Gembira pun semakin terbuka. Di daerah Deli Serdang (Kesultanan Serdang yang meliputi Batang Kuis, Kuala Namu, dan Pagar Merbau), perkebunan tembakau dibuka sangat luas; sementara perkembangan perkebunan kopi difokuskan di daerah Tanah Abang, Ramunia dan Serdang. Kemudian, perkebunan karet dan kelapa sawit menyusul. Para pengusaha perkebunan tersebut semua berkebangsaan Eropa dan diantaranya ada yang beragama Katolik. Pada tahun 1865, Pator De Vries didatangkan guna menjamin pelayanan pastoral bagi umat Katolik yang terpencar di wilayah perkebunan, instansi sipil dan militer Pemerintah Belanda. Patut dicatat bahwa ternyata pada tahun 1878, seorang imam Jesuit, yakni Pastor C. Wenneker SJ, telah menguasai kultur Batak dan melayani orang Katolik yang tinggal di daerah Batak, namun pada tahun 1884 beliau di tarik kembali ke Batavia. Pada tahun 1878, sebuah paroki telah berdiri di Medan.
Para tenaga ahli pengelola perkebunan yang dibangun di daerah Deli Serdang adalah warga Eropa, yang sebagian dari mereka sudah memeluk agama katolik sebelum dikirimkan ke Sumatera. Demi terjamin kehidupan rohani mereka, sebuah kapel sebagai tempat ibadah didirikan di perkebunan yang dikelola oleh Keluarga De Guigne. Pada waktu itu, jumlah umat Katolik berjumlah 30-an KK. Untuk melayani orang Katolik di wilayah kesultanan Serdang ini, secara periodik masih mengundang dari Bangka.
Sampai akhir abad ke-19, Gereja Katolik di Nusantara masih ditangani oleh satu-satunya Vikariat Apostolik yang terdapat di Batavia. Baru pada awal abad ke-20 beberapa Prefektur Apostolik dibentuk, salah satunya di Sumatera pada tahun 1912. Prefek Apostolik Sumatera yang pertama ialah Mgr.Liberatus Cluts,OFM Cap yang berkedudukan di Padang. Beliau kemudian digantikan oleh Mgr.Mathias Brans,OFM Cap. Program pertama Mgr. Mathias Brans adalah pewartaan Kabar Gembira bagi penduduk pribumi, tidak terfokus bagi warga Eropa lagi. Seiring dengan perkembangan umat yang cukup pesat di Sumatera bagian Utara, maka pada tahun 1941 Vikariat Apostolik Padang dipindahkan ke Sumatera Utara dengan nama Vikariat Apostolik Medan.
Pada masa penjajahan Jepang, para misionaris ke kamp-kamp konsentrasi. Meskipun demikian, iman kekatolikan tidak mati terpenjara bersama dengan para misionaris itu, karena memang para misionaris telah mempersiapkan para katekis awam yang tanggung. Pada masa-masa sulit itu, para katekis dan pemimpin awam sangat berperan menjaga dan melanjutkan perkembangan kekatolikan bahkan hingga masa kemerdekaan, dimana pemberontakan-pemberontakan berkecamuk hingga tahun 1950. Dengan demikian, iman dan Agama Katolik tetap bertumbuh. Berkecambah dan berbuah. Paroki-paroki pun akhirnya berdiri sejak tahun 1950-an hingga sekarang.
Pada tahun 1952, sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Lubuk Pakam telah didatangi oleh orang-orang Batak yang sudah beriman dan beragama Katolik dengan bekal iman yang sudah mereka terima dan hidupi dari tempat asal mereka (Samosir). Mereka umumnya berprofesi sebagai pedagang (penggalas) atau pembuka lahan pertanian (panombak) di daerah pinggiran Lubuk Pakam. Sebagai orang beriman Katolik, mereka saling merindukan untuk mengadakan ibadat bersama secara teratur. Untuk itulah, beberapa keluarga patut disebut sebagai pemrakarsa persekutuan tersebut yakni: keluarga Japaet Sinaga, Bapak Josep Sitanggang, Bapak Daud Hutabalian, Bapak Gidion Barimbing, Bapak S.W Simbolon serta Bapak J.D Saragih. Mereka membentuk komunitas umat beriman. Mereka (sekitar 15 KK) sering memanggil Pastor Van Duynhoven OFM Cap dari Paroki Saribudolok. Mereka beribadat secara teratur di rumah Bapak S.W. Simbolon di Jl Medan (sekarang di depan showroom sepeda motor honda “Rotella”).
Melihat antusiasme umat yang berhimpun, para gembala pun semakin bersemangat untuk mengunjungi dan melayani mereka. Sampai tahun 1955, Opung dolok (sebutan akrab bagi Pastor Elpidius Van Duynhoven) tidak hanya melayani di Lubuk Pakam tetapi juga sampai ke daerah Ramunia. Beliau mengadakan perjalanannya pastoralnya ke sekitar Lubuk Pakam melalui jalan-jalan hutan/perkebunan via Gunung Meriah sungguh perjuangan pelayanan yang penuh tantangan untuk menjumpai dan melayani komunitas-komunitas umat katolik yang tersebar di sekitar Lubuk Pakam.
Sejak tahun 1955, karena alasan geografis lebih dekat ke Medan, pelayanan umat di sekitar Lubuk Pakam bukan lagi dari Saribudolok melainkan dari Medan. Pastor Diego van Biggelar, OFMCap (yang akrab disebut opung Bornok) melanjutkan karya pelayanan itu. Pastor opung Bornok ditugaskan ke Lubuk Pakam dari Medan (Jl Pemuda-Katedral Medan). Ia sangat terkenal dengan kesederhanaan dan keramahannya untuk menyapa umat. Beliau sangat prihatin melihat kondisi rumah ibadat di Lubuk Pakam. Karena itu, beliau bermusyawarah dengan umat dan mohon restu dari Uskup Medan Mgr. Dr. Ferrius van den Hurk untuk mengusahakan dan mendirikan gedung gereja yang baru. Mendapat restu dari Uskup, pastor bersama umat Lubuk Pakam mencari lokasi yang memadai untuk gereja. Mereka menemukan lokasi strategis di Jl. Pematang Siantar (lokasi sekarang) pada tahun 1957.
Proses pembangunan gereja pun dimulai, pertama-tama dikordinir oleh Bapak C.H Lumbansiantar, dilanjutkan Bapak Daniel Tadjuddin Turnip (Oppung Dorris). Menurut beberapa narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun buku kenangan ini, ibu-ibu dan anak-anak turut serta dalam proses pengadaan bahan bangunan: ada yang mencari kayu, bambu, dan ada juga yang mengambil pasir dari sungai ular (sekitar 5km dari lokasi). Dengan semangat gotong royong itu, proses pembangunan gereja terlaksana terus-menerus secara bertahap.
Pastor Oppung Bornok juga memperhatikan peningkatan taraf pengetahuan umat dan masyarakat di sekitar Lubuk Pakam. Dengan berbagai upaya, beliau pun berhasil menghimpun tenaga dan dukungan untuk mendirikan bangunan Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1958. Setelah berdiri sekolah, pengelolaannya pun diserahkan kepada Bapak K.E. Sinaga (sekaligus kepala sekolah pertama), Bapak Japaet Sinaga dan Bapak Monang Parhusip. Proses pengajaran dan pendidikan berlangsung dengan menggunakan gedung sekolah darurat dan gereja, pastor pun ikut terlibat langsung dalam proses pengajaran di sekolah itu.
Pengembangan pelayanan Pastor Oppung Bornok dilanjutkan oleh Pastor Harie Pennock, OFMCap (tahun 1965). Pastor Pennock sudah menginap sesekali di gereja serentak sudah mulai membangun pastoran dan menyelesaikan pembangunan gereja stasi Lubuk Pakam. Beliau pula telah menggagas nama pelindung gereja baru ini: Gembala Yang Baik. Dengan terselesaikannya bangunan gereja Stasi Lubuk Pakam dan rumah pastor, maka Mgr. Dr. Ferrius van den Hurk meresmikan pastoran dan gereja tersebut pada tahun 1965. Berdasarkan Liber Baptozorum (Buku Baptis), sudah ada pembaptisan di Lubuk Pakam sebanyak 13 orang oleh Pastor Pennock, tepatnya pada 10 Oktober 1965. Oleh karena itu, seluruh pencatatan administratif sudah dimulai sejak Oktober 1965 secara tersendiri di Lubuk Pakam. Dengan alasan ini, sebenarnya Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam telah berdiri pada tahun 1965. Akan tetapi, berdasarkan Surat Ketetapan/Surat Keterangan Uskup Agung Medan, Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam didirikan pada tahun 1966.
Pada tahun 1966, saat didirikan sebagai paroki, Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam terdiri dari 7 stasi yang sudah ada pada saat itu, yakni Lubuk Pakam sendiri sebagai stasi induk (1952), Stasi Ramunia (1953), Stasi Serdang (1953), Stasi Pagar Jati (1958), Stasi Petapahan (1961), Stasi Galang (1961) dan Stasi Bangun Purba (1965). Pada tahun itu juga bertambah 2 stasi baru, yakni Stasi Juhar Baru (1966), dan Stasi Kotarih (1966), sehingga pada Bulan Desember 1966 jumlah stasi Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam menjadi 9 stasi.
Empat tahun kemudian yakni pada awal tahun 70-an, bertambah dua stasi lagi yakni Stasi Bah Perak (1967) yang dimekarkan dari Bangun Purba dan Stasi Pulokali (1969) yang dimekarkan dari Galang sehingga jumlahnya menjadi 11 stasi.
Antara tahun 1970-1980 jumlah stasi berkurang 2 tetapi bertambah. Berkurang dua yakni pada tahun 1971 reksa pastoral Stasi Bangun Purba dan Stasi Bah Perak diserahkan ke paroki Delitua, bertambah 2 yakni dibukanya Stasi Kuala Lama (1975) dan Stasi Perbaungan (1977). Maka, pada awal tahun 1980-an jumlah stasi Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam tetap berjumlah 11 stasi.
Pada kurun waktu antara tahun 1980-1990 bertambah lagi 7 stasi. Pada tahun 1981 Stasi Bangun Purba dan Stasi Bah Perak, yang sebelumnya pelayanannya diserahkan ke Paroki Delitua, dikembalikan kepada reksa pastoral Paroki Lubuk Pakam. Pada tahun itu juga, Stasi Bah Balua yang sebelumnya dibuka oleh P. Antonio Murru pada tahun 1975 tetapi sempat vakum selama 5 tahun dari tahun 1977-1981 dibuka kembali oleh Pastor Yan van Maurik, OFM Cap dan menjadi salah satu stasi dari Lubuk Pakam. Juga pada tahun 1981, Pastor Yan van Maurik OFM Cap meresmikan berdirinya Stasi ST. Yohannes Pembaptis Arapayung, pemekaran dari Stasi Kuala Lama. Setahun kemudian pada tahun 1982, Stasi Pamah Pematang, yang berdiri pada tahun 1974 sebagai bagian dari Paroki Delitua, diserahkan pengembalaannya ke Paroki Lubuk Pakam. Pada tahun 1982 juga dibuka stasi baru di Batang Kuis. Dan pada tahun 1986, dibuka Stasi Cinta Air yang dimekarkan dari Arapayung. Maka pada awal tahun 1990-an, jumlah stasi di Paroki Lubuk Pakam menjadi 18 stasi.
Limabelas tahun kemudian dibuka 3 stasi lagi, yakni Stasi Saur Matio (1992), Stasi Parlobaran (2000) dan Stasi Gema Kasih (2003). Tetapi sebelumnya Stasi St. Paulus Bah Siduadua yang sebelumnya merupakan stasi dari paroki St. Yoseph Tebing Tinggi, masuk ke paroki Lubuk Pakam karena alasan letak geografis. Maka, sampai tahun 2005, jumlah stasi Paroki Lubuk Pakam menjadi 22.
Pada tahun 2012, ketika Keuskupan Agung Medan membuka paroki baru di dekat Bandara Kuala Namu dengan pusatnya di Batangkuis, maka Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam menyerahkan reksa pastoral 3 stasi ke paroki baru itu, yakni Stasi Batangkuis sendiri, Stasi Serdang, dan Stasi Saur Matio. Maka, pada tahun 2016 ini, ketika Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam merayakan pesta emasnya, jumlah stasinya adalah sebanyak 19 stasi.

