Hari Raya Kenaikan Tuhan sering kali menjadi momen yang ironis dalam penanggalan liturgi kita. Di satu sisi, ini adalah peristiwa mulia yang menandai kemenangan Kristus, namun di sisi lain, sering kali perayaan ini kurang diminati dibandingkan hari raya besar lainnya. Ada keprihatinan bahwa jika umat beriman sendiri tidak lagi menghargai hari raya ini dengan sungguh-sungguh, makna kenaikan Kristus ke surga akan perlahan memudar dari penghayatan hidup harian kita.

Renungan ini mengajak kita untuk menggali lebih dalam makna Kenaikan Tuhan melalui empat pilar utama: keluarga, pengharapan kekal, perjuangan melawan keraguan, dan perayaan iman yang hidup.

1. Keluarga: Persemaian Semangat Misioner

Panggilan untuk mewartakan Injil ke seluruh penjuru dunia tidak muncul secara tiba-tiba. Belajar dari kesaksian para misionaris, seperti para saudara Kapusin yang datang ke Indonesia, semangat mereka berakar dari “Gereja Domestik” atau keluarga.

Di tengah perpecahan dunia, keluarga-keluarga Katolik yang berkumpul untuk makan bersama dan berdoa menjadi tempat di mana benih misi ditaburkan. Kepada anak-anak mereka, orang tua menanamkan kesadaran bahwa “masih banyak orang yang belum mengenal Kristus”. Dari meja makan keluarga inilah, lahir kerelaan untuk pergi ke seluruh bangsa demi membawa kabar sukacita Tuhan.

2. Kenaikan: Transformasi Kehadiran dan Pengharapan Kekal

Peristiwa Kenaikan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul bukanlah sebuah perpisahan yang menyedihkan, melainkan sebuah kesinambungan dari apa yang telah diajarkan Yesus dalam Injil. Yesus naik ke surga untuk memberikan jaminan pengharapan bahwa ada tempat bagi kita di sisi kanan Allah Bapa.

Kenaikan-Nya mengajari kita sebuah perspektif penting: kemuliaan sejati bukan hanya ada di dunia ini, melainkan mencapai kesempurnaannya di surga kelak. Oleh karena itu, segala damai dan kebaikan yang kita usahakan di bumi ini harus selalu mengarahkan hati dan budi kita pada kehidupan kekal, yang akan kita terima sebagai mahkota bagi orang beriman.

3. Mengatasi Keraguan dan Ketakutan dalam Mewarta

Injil Matius mencatat sebuah kejujuran manusiawi yang luar biasa: ketika para murid melihat Yesus, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa di antara mereka tetap ragu-ragu. Keraguan ini pun sering kita alami saat ini.

Sering kali, keraguan kita bukan karena kita tidak mampu menjelaskan iman kita, melainkan karena ketakutan sosial. Kita takut diasingkan, takut berkata benar karena takut dicap “sok suci” atau “sok kudus” oleh lingkungan sekitar. Kadang, keraguan juga muncul karena kita belum sepenuhnya mau berkomitmen untuk terus-menerus bertobat dan hidup baik secara konsisten. Namun, Tuhan tetap memanggil kita yang ragu ini untuk menjadi saksi-Nya.

4. Menghidupi dan Merayakan Iman dalam Ekaristi

Tantangan besar bagi Gereja saat ini adalah banyaknya umat yang telah dibaptis, namun tidak lagi menghidupi rahmat pembaptisannya. Iman Kristiani bukan sekadar rangkaian kata dalam Syahadat yang diucapkan tanpa makna, melainkan sebuah iman yang harus dirayakan secara nyata.

Puncak dari perayaan iman ini adalah Ekaristi Kudus. Dalam Ekaristi, kita tidak hanya berdoa, tetapi kita mendengarkan Sabda-Nya dan menyambut kuasa serta kekuatan yang dijanjikan-Nya melalui Tubuh dan Darah-Nya. Tanpa merayakan iman, identitas kita sebagai orang beriman akan kehilangan kekuatannya untuk menjadi saksi di tengah dunia.

Penutup: Janji Penyertaan Sampai Akhir Zaman

Tugas kita sebagai pengikut Kristus adalah “mengajar mereka melakukan sesuatu”. Mengajar di sini berarti membantu setiap orang mengalami bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka sendirian. Yesus berjanji: “Aku menyertai kamu sampai akhir zaman”.

Janji ini adalah sauh bagi kita dalam setiap pergumulan hidup. Kita dipanggil untuk saling mendukung dan meyakinkan satu sama lain bahwa Kristus hadir—melalui Sabda-Nya, melalui Ekaristi, dan melalui kehadiran kita yang menjadi sahabat bagi sesama. Mari kita jadikan Kristus sebagai pusat hidup, tetap teguh dalam kebenaran, dan berani melangkah sebagai saksi kenaikan-Nya di mana pun kita berada.

Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini