Referensi: Homili RD Sudi Monang Sinaga
Pernahkah kita merasa bahwa menjadi seorang "utusan Tuhan" adalah tugas berat yang hanya ditujukan untuk para romo, suster, atau pengurus gereja? Lewat Injil hari ini (Matius 9:36-10:8), kita diajak untuk melihat bahwa setiap kita adalah orang pilihan yang diutus oleh Tuhan.
Dasar dari perutusan ini sangat sederhana namun mendalam: Belas Kasih. Yesus melihat orang banyak yang lelah dan telantar seperti domba tanpa gembala, dan Ia tergerak oleh belas kasih. Namun, Yesus tidak ingin bekerja sendirian. Ia memanggil para murid-Nya—termasuk kita—untuk ikut serta dalam tugas-Nya.
Siapakah “Utusan” Itu?
Kita menjadi utusan Tuhan bukan karena kita hebat, melainkan karena kita telah dipersatukan dengan Yesus melalui Sakramen Baptis. Sebagai orang yang sudah dibaptis, kita memiliki tugas sebagai imam, nabi, dan raja. Seorang utusan tugasnya hanyalah menyampaikan dan melakukan apa yang diperintahkan oleh pemberi tugasnya. Dalam hal ini, Yesus memerintahkan kita untuk membawa kesembuhan dan martabat bagi sesama.
Menyembuhkan orang sakit atau mengusir setan bukan hanya soal mukjizat fisik. Bagi kita saat ini, itu berarti memulihkan harga diri manusia. Seperti Yesus yang menyembuhkan orang kusta agar mereka bisa kembali berkumpul dengan keluarga dan masyarakat tanpa merasa tersingkir, kita pun dipanggil untuk merangkul mereka yang merasa dikucilkan atau kehilangan iman.
Tantangan Terbesar: Mulai dari “Domba yang Hilang” di Rumah
Menariknya, Yesus berpesan agar para murid pertama-tama pergi kepada "domba-domba yang hilang dari umat Israel". Apa artinya bagi kita sekarang? Pesan ini mengingatkan kita untuk memulai perutusan dari lingkaran terdekat kita: diri sendiri dan keluarga.
Sering kali, jauh lebih mudah bagi kita untuk mengagumi tokoh suci yang jauh di sana daripada melihat kebaikan pada orang yang tinggal serumah dengan kita. Mengapa? Karena orang di rumah melihat segala kekurangan kita sehari-hari. Menjadi "sumber inspirasi" bagi suami, istri, anak, atau orang tua justru jauh lebih sulit karena mereka tahu persis siapa kita. Namun, justru di situlah panggilannya: pastikan orang-orang di sekitar kita tidak "hilang" dan tetap merasakan rahmat Tuhan melalui kehadiran kita.
Memberi dengan “Cuma-Cuma” (Gratis)
Yesus berkata, "Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, hendaknya kamu memberi dengan cuma-cuma juga". Coba kita renungkan sejenak: berapa banyak hal gratis yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita? Nafas, kesehatan, dan kasih sayang—semuanya diberikan Tuhan secara cuma-cuma dan itu sangat membahagiakan.
Sebagai balasannya, Tuhan meminta kita memberikan pelayanan kepada orang lain secara gratis pula. Melakukan kebaikan bukan karena ingin dipuji atau mendapat imbalan, melainkan karena kita ingin membagikan kebahagiaan yang telah kita terima dari Tuhan.
Kebaikan yang Berdasarkan Kebenaran
Apa bedanya kebaikan seorang pengikut Kristus dengan kebaikan orang lain pada umumnya? Dasarnya harus berbeda. Kebaikan kita bukan sekadar agar dianggap "orang baik" atau supaya punya banyak teman, melainkan karena kita beriman kepada Yesus yang adalah Sang Kebenaran.
Setiap kali kita menerima Komuni dalam Ekaristi, kita menerima Tubuh Kristus yang sama, yang digerakkan oleh belas kasih. Kristus yang kita terima itulah yang memberi kita kekuatan untuk terus melakukan kebaikan di dunia.
Penutup
Mari kita pulang ke "rumah" kita masing-masing dengan semangat baru. Tidak perlu pergi jauh untuk menjadi utusan Tuhan. Mulailah dengan mendoakan keluarga, memberikan perhatian bagi mereka yang merasa tersisih, dan melayani dengan tulus tanpa mengharap imbalan. Ingatlah, kita adalah perpanjangan tangan Tuhan yang penuh belas kasih.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.





