Jl. Pematang Siantar No.111, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut

Deepfake vs Jiwa Manusia: Lindungi Wajah dan Suara Kita Sebelum Menghilang

Penulis : Cynthia Margareth Saragih, Gereja Paroki
(Lomba Menulis Opini – Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 – Komsos Keuskupan Agung Medan)

Di dunia saat ini, di mana segala sesuatu serba instan, bukan hanya makanan, tetapi hampir semuanya kini serba instan berkat munculnya “kecerdasan buatan”.  Bayangkan jika suara ibu kita tiba-tiba muncul dalam video viral, menyampaikan pesan politik yang tidak pernah diucapkan oleh ibu kita sendiri, dengan ponsel yang selalu di tangan kita, bukan di tangan ibu kita. Atau belakangan ini, kita melihat wajah seorang wanita yang berpakaian rapi diubah menjadi pakaian terbuka  dengan wajah yang sama. Ini adalah kenyataan, bukan fantasi distopia atau sekadar khayalan. Teknologi seperti AI generatif, pengeditan suara, dan deepfake telah mengubah komunikasi sosial menjadi medan pertempuran antara yang nyata dan yang palsu.

Setelah saya membaca pesan Bapa Paus Leo XIV ada beberapa kalimat yang menarik hati mungil saya  untuk menulis opini ini. “Di tengah badai kecerdasan buatan ini, kita perlu menjaga wajah kita, karena wajah mencerminkan kasih Tuhan dan suara manusia. Jika kita gagal dalam tugas pelestarian ini, teknologi digital mengancam untuk secara radikal mengubah beberapa pilar fundamental peradaban manusia yang terkadang kita anggap remeh”. Panggilan hati yang membangun persaudaraan adalah kunci komunikasi sejati, bukan sekadar ilusi. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan seperti ChatGPT-5 dan Midjourney V7, yang mampu meniru emosi manusia dengan presisi yang menakutkan, bukankah itu luar biasa, teman-teman? Sungguh luar biasa. Di sini, kita dapat melihat bersama melalui analisis yang lebih dalam, bahwa konsekuensinya jelas jika kecerdasan buatan ini dibiarkan tanpa pengawasan, ia akan mengancam privasi dan kemanusiaan kita.

Menurut saya, kecerdasan buatan ini sebenarnya memiliki banyak manfaat, tidak hanya memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bangku pendidikan tetapi juga mampu mempercepat diagnosis kanker pita suara dengan menganalisis suara pasien. Saya menyatakan ini karena saya membaca berita tentang kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi kanker. Namun, saya tidak langsung menerima berita ini begitu saja, saya meneliti lebih dalam informasi dalam artikel dan laporan berita dari berbagai sumber, termasuk penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Digital Health yang menyatakan bahwa suara manusia dapat menjadi indikator awal kanker pita suara. Melalui hal ini, Bapa Paus Leo XIV mengingatkan kita bahwa, betapapun canggihnya kecerdasan buatan, ia akan menjadi “pencuri identitas” terbesar dalam sejarah jika tidak memiliki etika. Lebih jauh lagi, setelah menganalisis beberapa hal, saya merasakan dan menemukan bahwa penggunaan kecerdasan buatan tanpa etika adalah tidak etis yang akan akan menimbulkan anacaman yaitu Pertama, jika kita merenungkan lebih dalam, kecerdasan buatan menghilangkan keaslian komunikasi. Mengapa demikian? Wajah dan suara adalah ekspresi khas jiwa manusia dan nada yang penuh perasaan, kerutan dahi saat berpikir. Kecerdasan buatan seperti ElevenLabs dapat menciptakan pidato palsu dengan akurasi 99% dalam 30 detik dari sampel satu menit. Apa dampaknya terhadap masyarakat? Tentu saja, kepercayaan publik menurun, yang akan memicu perpecahan dalam masyarakat. Kedua, ada dampak moral dan spiritual, di mana dinyatakan bahwa “Manusia adalah citra Allah (Imago Dei), dengan suara untuk menyanyikan mazmur dan wajah untuk memandang kasih,” seperti yang dinyatakan Bapa Paus Leo XIV. Kecerdasan buatan ini merusak martabat dengan mengkomodifikasi data ini menjadi data komersial. Ancaman ketiga adalah ancaman sosial dan politik, di mana deepfake, atau konten yang dimanipulasi secara digital yang tampak mengucapkan kata-kata yang tidak diucapkan, pasti akan menyebabkan keresahan. Meskipun undang-undang seperti Undang-Undang AI Uni Eropa dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU TIK) Indonesia tahun 2024 sudah ada, Bapa Paus Leo XIV terus menekankan perlunya “hati nurani” di balik legislasi.

Seperti yang sudah  saya jelaskan di atas, jika digunakan dengan benar, kecerdasan buatan ini dapat bermanfaat. Salah satu contohnya lagi adalah menyediakan suara sintetis bagi penyandang tuna rungu, sungguh hal ini jika digunakan dengan benar sangat menolong banyak manusia. Bapa Paus Leo XIV menekankan bahwa teknologi harus membantu manusia, bukan mendominasi mereka. Melindungi suara dan wajah berarti membangun lingkungan komunikasi yang terbuka, autentik, dan bertanggung jawab.

Refleksi pribadi saya dimulai dengan sebuah insiden di mana video deepfake teman saya dengan wajahnya yang ditumpangkan pada konten perundungan beredar di Instagram. Saya baru menyadari kontribusi saya terhadap racun digital tersebut ketika saya membagikannya tanpa berpikir. Bapa Paus Leo XIV mengajak kita untuk bertanya pada hati nurani kita, “Apakah suara saya di Twitter membangun harapan atau malah menyebarkan keputusasaan?” Apakah wajah digital saya, yang difilter di Instagram, mewakili Tuhan secara internal? Dalam rutinitas harian saya, saya sering tergoda oleh filter kecerdasan buatan seperti yang ada di Instagram, yang sekarang memiliki fitur seperti ubah gaya lampu kilat dan lainnya untuk mengubah kondisi wajah menjadi “cantik sempurna,” tetapi saya tidak menyadari bahwa sebenarnya kerapuhan manusia yang dihilangkan itu justru jauh lebih indah. Melalui refleksi ini, saya telah mengubah kebiasaan saya dimana sekarang saya lebih memilih untuk memverifikasi sumber, memilih panggilan video daripada obrolan, dan tidak menggunakan kecerdasan buatan di Instagram untuk mengubah penampilan saya. Melalui ini, saya menyadari bahwa komunikasi sosial adalah “jembatan spiritual” daripada “labirin ilusi”. Ini adalah panggilan untuk kembali ke inti komunikasi yaiti empati tatap muka, kisah otentik, dan bukan avatar yang diidealkan.

Saya juga diingatkan akan realitas di lapangan. Ada contoh konkret yang telah saya lihat dan alami yaitu pemilihan umum 2024, yang menjadi pelajaran pahit karena suara deepfake Ganjar Pranowo, yang mengklaim “janji palsu,” yang menyebar luas di TikTok dan mempolarisasi jutaan pemilih. Pelaku ditangkap oleh polisi, tetapi kerusakan kepercayaan tetap ada, dan ini juga dapat memicu ketegangan dan bahkan perpecahan dalam masyarakat.

Pada Hari Komunikasi Sosial 2026 ini, mari kita menanggapi pesan Bapa Paus Leo XIV, yang menyatakan bahwa kita harus membela suara dan wajah kita sebagai benteng kebenaran. Kita dapat mengambil beberapa tindakan berupa mengadopsi alat verifikasi seperti TruePic atau SynthID dari Google, mendukung petisi untuk transparansi kecerdasan buatan di media sosial, membangun komunitas offline (diskusi keluarga, gereja, lingkungan, dan sekolah), dan mendidik anak-anak dengan pesan “Suara yang nyata lebih kuat daripada suara palsu.” Bayangkan sebuah dunia di mana setiap video menumbuhkan persahabatan dan setiap unggahan menumbuhkan harapan. Saya yakin dengan bekerja bersama, kita menciptakan komunikasi sosial yang tak tergantikan, penuh kasih sayang, otentik, dan abadi. “Kecerdasan buatan mungkin berbicara, tetapi hanya manusia yang menyanyikan pujian.” Mari menjadi bagian di era kemajuan teknologi ini, kita harus menjadi saksi dan wajah Tuhan!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel lainnya

Menjadi Sahabat Karib Yesus: Ekaristi sebagai “Makanan Favorit” Jiwa Kita

Referensi: Homili RD Rafael H. Sirat Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi anak-anak kami yang menerima Komuni Pertama, juga bagi Bapak dan Ibu...

Tritunggal Maha Kudus: Memeluk Kasih Allah Melalui Kuasa Pengampunan

Referensi: Homili RD Rafael H. Sirait Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, sebuah misteri iman yang sangat khas dalam Gereja Katolik di...

Homili di Era AI: Perlukah Imam Mengandalkan Kecerdasan Buatan?

Penulis : Realyta Deengel Sitindaon(Lomba Menulis Opini - Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 - Komsos Keuskupan Agung Medan) Perkembangan zaman ditandai dengan pertumbuhan revolusi industri...

Pentakosta: Menghidupi Bahasa Roh Melalui Karya Kasih Nyata

Hari Raya Pentakosta sering kali kita maknai sebagai peristiwa turunnya Roh Kudus yang memberikan karunia bahasa kepada para rasul. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud...