Jl. Pematang Siantar No.111, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut

Jangan Takut: Menata Hati dan Pikiran di Bawah Pimpinan Tuhan

Pernahkah Anda merasa sangat khawatir tentang hari esok? Tentang sekolah anak-anak, biaya hidup, atau apa yang akan terjadi di masa depan? Pesan Tuhan dalam Injil hari ini sangat jelas bagi kita semua: “Jangan Takut”. Tuhan menegaskan bahwa kita jauh lebih berharga daripada burung pipit, dan Dia menyertai serta memperhatikan kita sampai hal yang paling kecil sekalipun.

Namun, meski kita sering mendengar janji ini, faktanya banyak dari kita—baik pastor, suster, maupun umat—masih sering diserang oleh rasa cemas dan kekhawatiran. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Siapa yang Memimpin Hidup Kita?

Kekhawatiran sering muncul karena Tuhan belum sungguh-sungguh menjadi pemimpin dalam perjalanan hidup kita. Secara lisan kita mungkin menyebut-Nya “Tuhan”, tetapi dalam kenyataannya, sering kali diri kita sendirilah yang menjadi pusat.

Kita sering membiarkan diri dikendalikan oleh faktor luar, seperti gaya hidup orang lain. Misalnya, melihat tetangga membeli barang baru atau memiliki gaya hidup tertentu, kita ikut merasa cemas jika tidak memilikinya. Ada anekdot tentang seorang ibu yang tensinya naik bukan karena sakit, tetapi karena “panas hati” melihat tetangganya membeli kulkas baru. Inilah yang membuat hidup kita tidak tenang: ketika kita terus membandingkan diri dengan orang lain.

Jebakan Pikiran: Mencoba Membaca Masa Depan dengan Memori Masa Lalu

Salah satu sumber kecemasan terbesar adalah cara kerja pikiran kita. Pikiran adalah hamba yang baik, tetapi ia bisa menjadi tuan yang sangat jahat jika kita membiarkannya mengendalikan kita.

Pikiran kita bekerja seperti memori atau lemari penyimpanan untuk hal-hal yang sudah terjadi. Kesalahan kita adalah sering menggunakan “dokumen memori” masa lalu ini untuk mencoba membaca masa depan yang belum terjadi. Padahal, apa yang kita cemaskan hari ini belum tentu akan terjadi. Jika kita menoleh ke belakang, banyak hal yang kita takutkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu ternyata tidak seburuk yang kita bayangkan, dan kita tetap bisa melaluinya hingga hari ini. Ingatlah, matahari terbit setiap pagi tanpa perlu kita pikirkan atau suruh. Berpikirlah pada porsinya, dan biarkan Tuhan yang merancang sisanya.

Mengelola Perasaan: Jangan Biarkan “Setan” Menetap di Hati

Selain pikiran, perasaan seperti sakit hati, dendam, dan gengsi sering kali merusak kedamaian kita. Ada orang yang rela memutar jalan hanya karena tidak mau berpapasan dengan orang yang membuatnya sakit hati.

Kita sering menyalahkan situasi atau bahkan hal-hal mistis saat hidup terasa tidak tenang. Padahal, sering kali masalah utamanya adalah “setan” dalam hati, seperti kecurigaan berlebih pada pasangan, kemalasan, atau kecanduan hiburan yang membuat kita lupa mengurus keluarga dan rumah. Percikan air suci saat pemberkatan rumah tidak akan banyak berguna jika anggota keluarga tidak mau berkumpul, berdoa bersama, dan saling mengampuni.

Belajar dari Bebek dan Perawat Rumah Sakit Jiwa

Kita bisa belajar dari seekor bebek. Meskipun bebek bermain di air yang basah selama 24 jam, ia tidak jatuh sakit atau masuk angin karena bulunya mengandung zat yang membuatnya “kedap air”. Sebagai manusia, kita seharusnya lebih hebat dari bebek. Kita harus belajar agar komentar negatif atau sikap buruk tetangga tidak otomatis masuk dan merusak hati kita.

Sama seperti perawat di rumah sakit jiwa, mereka setiap hari mendengar makian dari pasien, tetapi mereka tidak memasukkannya ke dalam hati. Jika mereka memasukkannya ke hati, mereka akan stres atau stroke di hari kedua kerja. Begitu pula kita; jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh perasaan atau omongan orang lain.

Penutup: Mendekat pada Sang Gembala

Obat paling mujarab untuk sembuh dari kekhawatiran dan kecemasan adalah dengan mendekat kepada Tuhan, terutama melalui Ekaristi. Mari kita serahkan kendali hidup kita kepada-Nya. Jangan lagi biarkan pikiran dan perasaan yang liar memimpin kita, melainkan biarlah Tuhan yang membimbing sehingga kita menemukan kedamaian dan ketenangan sejati.

Tuhan Memberkati Kita Semua. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel lainnya

Panggilan Menuju Kekudusan

Banyak orang membayangkan bahwa menjadi kudus adalah hal yang sangat rumit dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki catatan sejarah panjang dalam kanonisasi Gereja....

Menghidupi Kehendak Allah dalam Relasi dengan Sesama dan Seluruh Ciptaan

Pernahkah kita sungguh-sungguh merenungkan, ke manakah arah cinta kasih yang kita hidupi setiap hari: apakah ia hanya berhenti pada kenyamanan diri sendiri, ataukah ia...

Berikan kepada Allah Apa yang Menjadi Hak Allah: Menjadi Pembawa Kebaikan di Tengah Dunia yang Rusak

Pernahkah timbul rasa muak dan pertanyaan mendalam di dalam batin kita saat menyaksikan begitu banyaknya ketidakadilan, korupsi, serta penderitaan terjadi di tengah masyarakat ?...

Menjawab Undangan Tuhan: Mengenakan ‘Pakaian Pesta’ Kesungguhan Hati dan Setia Jalani Hidup

Bacaan Kitab Suci : Injil Matius 22:1-14 (Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin) Dalam dinamika kehidupan sehari-hari, kita semua tentu mendambakan kedamaian dan sukacita sejati. Namun, tidak...