Menjadi Dewasa di Usia Indah: Takdir yang Menggembirakan, Mahkota Kebijaksanaan, dan Kekuatan Doa

0
511

Menjadi tua adalah takdir, tetapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Tidak semua orang yang berusia lanjut otomatis menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana. Namun, bagi mereka yang memilih jalan kedewasaan, usia tua diubah menjadi masa yang penuh berkat, sukacita, dan memancarkan keindahan batin yang luar biasa.

Usia Lanjut sebagai Anugerah dan Bonus Kehidupan

Berdasarkan standar Kitab Suci, batas umur manusia berkisar antara 60 tahun, atau 70 tahun jika ia kuat. Oleh karena itu, melewati batas usia tersebut dan mencapai usia di atas 70 tahun adalah sebuah bonus kelimpahan berkat dari Tuhan yang sangat berharga.

Masa tua adalah masa keberuntungan yang luar biasa karena tidak semua orang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk merasakannya. Bahkan, rambut yang beruban di kepala sesungguhnya adalah sebuah mahkota indah dan anugerah rohani yang patut kita syukuri serta banggakan di hadapan dunia.

Menerima Keterbatasan Fisik dengan Lapang Dada

Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia secara alami akan mengalami penurunan fungsi. Tulang-tulang mulai rapuh, persendian mulai haus, tubuh tidak lagi selincah dahulu, ingatan mulai memudar, dan hati terkadang menjadi lebih mudah gelisah. Rasa kesal dan keinginan untuk menggerutu sering kali muncul ketika membandingkan keterbatasan fisik saat ini dengan kekuatan di masa muda.

Namun, mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa kita ubah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Daripada membebani pikiran dengan memikirkan urusan ekonomi, masalah anak-anak, menantu, atau bahkan kondisi negara yang mencemaskan, para orang tua diajak untuk melepaskan beban pikiran tersebut dan mengubahnya menjadi penyerahan diri yang penuh syukur kepada Tuhan.

Masa Pemurnian Diri Melalui Kekuatan Doa

Ketika kekuatan fisik untuk beraktivitas di luar rumah mulai berkurang, Tuhan sebenarnya sedang memberikan kesempatan yang indah untuk pemurnian diri. Di saat banyak waktu dihabiskan dengan duduk atau beristirahat, tugas utama dan termulia yang dapat dilakukan oleh para lansia adalah berdoa. Sebab, berdoa adalah salah satu bentuk nyata dari berbuat baik.

Para orang tua dan lansia diajak untuk selalu siap sedia dengan untaian Rosario di tangan atau di saku mereka. Di sela-sela waktu luang, naikkanlah doa-doa yang tulus untuk mendoakan keselamatan negara, para pemimpin seperti Bapak Prabowo, anak-anak, menantu (parumen) agar terhindar dari perselisihan, cucu-cucu, hingga mendoakan kesehatan para pelayan gereja seperti Pastor Rafael. Doa-doa yang tak putus-putus ini menjadikan para lansia sebagai pelindung rohani yang luar biasa bagi keluarga mereka. Ketika anggota keluarga yang lain sibuk bekerja di luar, ada para lansia yang setiap hari setia melapor dan membawa seluruh keluarga ke hadapan Tuhan.

Menghidupi Sukacita dalam Komunitas

Keindahan masa tua juga terpancar ketika para lansia aktif berkumpul dan bersosialisasi di dalam gereja paroki maupun stasi, seperti kelompok lansia di Tangar Jati, Pethan, Ramunia, dan Galak B2. Kelompok kategorial lansia sering kali menjadi kelompok yang paling damai dan penuh kegembiraan.

Meskipun ada yang hadir dengan bantuan tongkat atau langkah kaki yang mulai lambat, mereka tetap datang berkumpul dengan semangat membara. Mereka merayakan hidup dengan mengikuti misa pagi bersama, senam sehat, hingga mengobrol hangat membagikan tips ramuan obat-obatan tradisional serta kesehatan. Sukacita dan kebersamaan yang tulus inilah yang menjadi kesaksian iman yang hidup di tengah jemaat.

Gereja yang Selalu Ramah bagi Lansia

Gereja sangat mencintai dan mengasihi para lansia serta kakek-nenek kita. Keberadaan para lansia di tengah umat adalah harta rohani yang menopang kehidupan gereja. Melalui perayaan rohani dan perhatian komunitas, Gereja berkomitmen untuk senantiasa menjadi rumah yang hangat dan ramah bagi setiap orang lanjut usia, di mana mereka dapat terus merasakan kehadiran Tuhan dan mendengar sapaan kasih-Nya: “Aku tidak akan pernah melupakanmu”.

Mari kita juga terus menyatukan doa bersama seluruh gereja, memohon berkat dan perlindungan bagi pelayanan Bapa Suci Paus Leo 14. Semoga para orang tua kita senantiasa dianugerahi kesehatan, sukacita, kedewasaan iman, serta kelimpahan berkat dari Tuhan.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.


Renungan ini disusun berdasarkan Homili Pastor Rafael pada Perayaan Ekaristi Puncak Hari Kakek Nenek dan Lansia di Paroki Lubuk Pakam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini