Jl. Pematang Siantar No.111, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut

Homili di Era AI: Perlukah Imam Mengandalkan Kecerdasan Buatan?

Penulis : Realyta Deengel Sitindaon
(Lomba Menulis Opini – Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 – Komsos Keuskupan Agung Medan)

Perkembangan zaman ditandai dengan pertumbuhan revolusi industri yang tidak berhenti di satu titik. Revolusi industri merupakan transformasi besar seluruh dimensi kehidupan manusia. Perjalanan pertumbuhan revolusi industri dapat dilihat mulai dari revolusi industri 1.0 yang dimulai pada akhir abad ke-18, revolusi industri 2.0 yang dimulai pada awal abad ke-20, revolusi industri 3.0 yang dimulai pada tahun 1960, dan revolusi industri 4.0 yang dimulai pada tahun 2021 hingga sekarang. Revolusi industri 4.0 merupakan episode yang menitikberatkan pada konsumsi teknologi canggih dalam seluruh pilar kehidupan mulai dari pendidikan, kesehatan, transportasi, bisnis, politik, bahkan dalam kehidupan gereja. Teknologi canggih tersebut berupa Internet of Things (loT), Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), Big Data Analytics, Otomatisasi dan Robotika, Cloud Computing, Teknologi Cetak 3D (3D Printing), dan Teknologi Blockchain. Tidak dapat dibantah keberadaan revolusi industri 4.0 ini menciptakan isu yang serius di berbagai kalangan kehidupan, bahkan dalam kehidupan gereja.  

Isu konsumsi Artificial Intelligence bagi seorang imam dalam menyampaikan homili kerap kali menjadi perbincangan akhir-akhir ini. “Paus Leo XIV mengingatkan para imam atau pastor agar tidak menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) seperti ChatGPT untuk menulis khotbah/homili” (Kompas.com, 2026). Melalui isu ini terlahir dua posisi pandangan yang berbeda yakni pro dan kontra. Dalam isu ini, penulis memposisikan diri pada pandangan kontra. Hal ini dikarenakan penulis menganggap tindakan tersebut tidak lazim dilakukan.

Kecerdasan Buatan (AI) dapat dikatakan sebagai trend perkembangan akal imitasi seperti akal manusia, yang berasal dari data base dalam jumlah lebih besar dan bekerja lebih cepat dari manusia. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat John McCarthy (Pelopor Kecerdasan Buatan) bahwa AI adalah suatu terobosan teknologi dalam menciptakan komputer, robot, aplikasi atau program yang dapat bekerja secara cerdas layaknya seperti manusia, bahkan hasil pengembangannya dapat dikatakan melebihi kecerdasan manusia. Gereja Katolik membuka diri dengan kemajuan teknologi dengan menganggap AI sebagai karunia Tuhan yang dapat digunakan untuk kepentingan gereja dan umatnya dengan dibarengi kewaspadaan dalam penyalahgunaan. Seperti yang dikatakan oleh Bapa Konsili Vatikan II “Sungguhpun kemajuan duniawi harus dengan cermat dibedakan dari pertumbuhan Kerajaan Kristus”, akan tetapi “kemajuan itu sangat penting bagi Kerajaan Allah, sejauh dapat membantu untuk mengatur masyarakat manusia secara lebih baik” (Gaudium et Spes art 39).

Pada dasarnya, homili berasal dari Bahasa Yunani yakni homilia yang artinya hubungan, interaksi, atau percakapan. Homili berperan sebagai hal yang sangat krusial dalam membentuk, memelihara, dan menumbuhkan iman kekatolikan seseorang. Hendrikus (1991) menyebutkan bahwa homili merupakan salah satu contoh dari bentuk retorika. Pada saat homili, terjadi komunikasi dua arah antara imam dan umat, walaupun tidak selalu ada percakapan langsung. Seorang imam akan mengartikan isi kitab suci kemudian memberikan khotbah nyata kepada umat, “agar mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman (SC 10).

Homili menjadi momen sakral dimana bantuan Allah sendiri hadir berbicara melalui imam dan bukan bantuan kecerdasan buatan (AI). Paus Fransiskus mengatakan “Marilah kita memperbaharui kepercayaan diri kita dalam berkhotbah, berdasarkan pada keyakinan kita bahwa Allah yang berusaha menyentuh orang-orang lain melalui pengkhotbah; dan bahwa Ia memperlihatkan kekuasaan-Nya melalui kata-kata manusia” (EG 136). Sehingga seorang imam harus mempersiapkan dirinya melalui persiapan jasmani, rohani, dan kontekstual sebelum menyampaikan homili. Apabila imam tidak mempersiapakan diri dengan baik, maka komunikasi dalam penyampaian homili tidak berjalan dengan baik. Seperti yang tertulis dalam Evangelii Gaudium bahwa “Seorang Pengkhotbah yang tidak mempersiapkan diri bukan “alat Roh Kudus”; ia tidak jujur dan tidak bertanggung jawab terhadap anugerah-anugerah yang telah ia terima”

Kecerdasan buatan mampu mengartikan isi kitab suci dalam bentuk rangkain teks yang tersusun rapi serta memuat pesan nyata yang dapat disampaikan dalam khotbah. Namun AI tidak memiliki jiwa spiritual yakni iman yang dimiliki dalam diri seseorang. Menurut penulis, penggunaan AI dalam menyampaikan homili seakan-akan seperti seorang imam menyerahkan tanggung jawabnya kepada kecerdasan buatan. Ketika dilihat dari sisi penyajian kalimat dalam mengartikan kitab suci, AI sering kali menggunakan kalimat yang terlalu kompleks. Menurut penulis, jika seorang imam menggunakan AI dalam menyampaikan homili maka homili tersebut akan sulit dipahami oleh umat. Paus Benediktus XVI mengatakan “Homili yang terlalu umum dan abstrak yang mengaburkan kekuatan langsung dari Sabda Allah (Verbum Domini 59). Sebelum menjadi seorang imam, orang tersebut harus menjalani masa pendidikan mulai dari Seminari Menengah, kemudian masuk Seminari Tinggi, lalu mereka harus menjalani proses perkuliahan S1, bahkan hingga S2 dan “mereka membutuhkan waktu sesingkat-singkatnya 10 tahun untuk menyelesaikan pendidikannya” (Kompasiana, 2023). Menurut penulis, penggunaan AI dalam menyajikan homilidapat membuat seorang imam menjauh dari proses refleksi pribadinya. Namun, homili seharusnya lahir dari ilmu, pengetahuan, bahkan dari pengalaman iman yang diperoleh selama menjalani masa pendidikan. AI tersebut akan menjadi pedoman bagi seorang imam dalam menyampaikan homili. Menurut penulis, tindakan konsumsi AI bagi seorang imam dalam menyampaikan homili dapat membuat imam menjadi ketergantungan akan penggunaannya. Ketergantungan penggunaan ini memicu berkurangnya disiplin intelektual seorang imam seperti yang dikatakan oleh Paus Leo XIV “Kebiasaan menyerahkan penulisan khotbah kepada bot berpotensi melemahkan disiplin intelektual seorang imam atau pastor” (Kompas.com, 2026). Menurut KBBI, Intelektual adalah cerdas, berakal, dan berpikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; mempunyai kecerdasan yang tinggi; cendikiawan; totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Intelektual menitikberatkan pada nalar berpikir kritis, ketika AI membuat semua serba cepat dan instan maka kedalaman nalar berpikir seseorang akan terkikis.

Dampak pertumbuhan revolusi industri 4.0 sangat cepat dirasakan oleh berbagai kalangan. Namun, keberadaan tersebut tidak dapat menutup peran dan martabat manusia dengan cepat. Menurut penulis, pada akhirnya penggunaan AI bagi seorang imam dalam menyajikan homili, akan menghadirkan pandangan negatif dan tidak setuju akan tindakan tersebut. Penggunaan AI dalam pelayanan gereja dapat berdampak negatif terhadap relasi dan spiritualitas karena berpotensi melemahkan praktik pastoral yang seharusnya bertumpu pada hubungan antarmanusia (Ferry Irwanto, hlm. 58). Maka dari itu, seorang imam harus mampu menahan diri dan menyikapi dengan bijak keberadaan kecerdasan buatan. Dikarenakan ini akan berdampak pada berbagai hal baik dalam kehidupan gereja maupun dalam diri seorang imam. Menurut penulis, saat ini diperlukan kehadiran sebuah regulasi atau Hukum Kanon yang jelas dan tegas untuk mengatur permasalahan dalam isu ini. Oleh sebab itu, regulasi yang akuras diperlukan agar perkembangan AI tidak hanya mendorong inovasi, namun juga tetap menjaga etika, keamanan, dan martabat manusia (Kompas.com, 2024).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel lainnya

Menjadi Sahabat Karib Yesus: Ekaristi sebagai “Makanan Favorit” Jiwa Kita

Referensi: Homili RD Rafael H. Sirat Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi anak-anak kami yang menerima Komuni Pertama, juga bagi Bapak dan Ibu...

Tritunggal Maha Kudus: Memeluk Kasih Allah Melalui Kuasa Pengampunan

Referensi: Homili RD Rafael H. Sirait Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, sebuah misteri iman yang sangat khas dalam Gereja Katolik di...

Deepfake vs Jiwa Manusia: Lindungi Wajah dan Suara Kita Sebelum Menghilang

Penulis : Cynthia Margareth Saragih, Gereja Paroki(Lomba Menulis Opini - Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 - Komsos Keuskupan Agung Medan) Di dunia saat ini, di...

Pentakosta: Menghidupi Bahasa Roh Melalui Karya Kasih Nyata

Hari Raya Pentakosta sering kali kita maknai sebagai peristiwa turunnya Roh Kudus yang memberikan karunia bahasa kepada para rasul. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud...