Setelah melakukan pelayanan besar memberi makan lima ribu orang, Yesus dikerumuni oleh banyak orang karena Ia menyembuhkan mereka dan mengenyangkan kelaparan mereka. Namun, di tengah padatnya kesibukan pelayanan tersebut, Yesus memilih untuk mengambil waktu menyingkir dan berdoa. Sering kali kita sendiri, dalam segala keletihan, kegalauan, dan beban hidup sehari-hari, merasa sangat sulit untuk meluangkan waktu tenang bersama Tuhan. Padahal, mengambil waktu untuk menyingkir sejenak bukanlah cara untuk melarikan diri atau melupakan kesulitan pekerjaan kita, melainkan sebuah kesempatan berharga untuk membawa, merangkul, dan merayakan seluruh pekerjaan serta pergumulan hidup itu bersama dengan Tuhan.
Kebimbangan yang Memutuskan Aliran Rahmat
Ketika badai kecemasan menerpa hidup, kita sering kali berteriak berseru, “Tuhan, Tuhan tolonglah kami”. Namun, secara manusiawi kita kerap kali tidak konsisten; kita mengawali hari-hari sulit dengan penuh semangat, tetapi perlahan-lahan kehilangan kekuatan pada hari-hari berikutnya.
Masalah utama kita sering kali bukanlah absennya pertolongan Tuhan, melainkan ketidakpercayaan dan keraguan yang kita simpan di dalam hati. Kita berdoa memohon pertolongan, tetapi kita meragukan jawaban Tuhan, bahkan mencurigai ketulusan sesama yang dikirimkan untuk membantu kita. Keraguan dan kebimbangan inilah yang pada akhirnya menjadi dinding penghalang dan memutuskan rahmat Tuhan untuk bekerja secara aktif di dalam diri kita. Yesus sendiri menegur sikap ini dengan lembut, “Hai orang yang percaya, mengapa engkau bimbang?”.
Keberanian untuk Mengulurkan Tangan dan Melangkah
Tuhan senantiasa menyapa dan memaklumi kemanusiaan kita yang rapuh. Namun, Ia menghendaki agar kita tidak hanya bersikap pasif berteriak meminta pertolongan tanpa ada usaha nyata dari diri kita sendiri. Kita diajak untuk berani keluar dari diri sendiri, mengulurkan tangan untuk ditolong, dan mau melangkah mengikuti Yesus seperti yang dilakukan Petrus.
Iman menuntut aksi nyata: mau dibimbing oleh-Nya dan percaya bahwa pertolongan serta kepedulian Tuhan itu nyata, baik secara langsung maupun melalui kehadiran sesama manusia di sekitar kita.
Hidup Ekaristis: Menjadi Penyelamat bagi Sesama
Setelah kita datang kepada Yesus, menerima pertolongan-Nya, dan dikenyangkan oleh-Nya, kita tidak boleh berhenti di situ saja. Kita dipanggil untuk hidup secara ekaristis dan siap diutus kembali ke tengah dunia. Relasi kita dengan Tuhan harus terus diperdalam dari waktu ke waktu melalui santapan sabda dan sakramen kudus.
Perwujudan nyata dari iman ini adalah kesediaan kita untuk tidak lagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain, melainkan mempergunakan raga dan keistimewaan yang kita miliki untuk memuliakan Tuhan dan berguna bagi sesama. Kita diutus untuk mengulurkan tangan bagi orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Ketika kita mau bertindak seperti Yesus yang mengulurkan tangan menyelamatkan, dan seperti Petrus yang mau belajar percaya, di situlah keselamatan serta sukacita akan terjadi untuk melampaui segala kesulitan hidup.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Pertanyaan Refleksi untuk Umat
- Setelah kita berkali-kali ditolong dan dikenyangkan oleh rahmat Tuhan, bagaimanakah kita mempergunakan raga dan keistimewaan pribadi kita untuk bergantian mengulurkan tangan menolong sesama yang sedang kesusahan?
- Di tengah padatnya pekerjaan, pelayanan, dan keletihan harian, apakah kita sudah bersedia meluangkan waktu untuk menyingkir sejenak dan berdoa guna membawa serta merayakan seluruh pergumulan hidup kita bersama Tuhan?
- Ketika berseru memohon pertolongan, apakah di saat yang sama kita masih menyimpan keraguan akan kepedulian Tuhan, atau bahkan mencurigai ketulusan sesama yang sebenarnya dikirim oleh-Nya untuk menolong kita?
- Apakah iman kita selama ini hanya sebatas kata-kata memohon bantuan tanpa disertai keberanian nyata untuk mengulurkan tangan dan melangkah keluar dari ketakutan kita sendiri?
Renungan ini disusun berdasarkan Homili Pastor Simon Sinaga pada Misa Malam Minggu di Gereja Paroki Lubuk Pakam





