Referensi: Homili RD Rafael H. Sirait
Pernahkah kita mendengar kisah tentang seseorang yang rela meninggalkan imannya demi cinta kepada pasangan, namun akhirnya merasa kecewa dan ingin kembali? Kisah nyata ini sering terjadi di sekitar kita. Banyak yang merasa “buta” karena kekaguman pada manusia, lalu mengabaikan Tuhan, hingga akhirnya menyadari bahwa kekayaan iman—seperti ekaristi, liturgi, dan devosi—tidak ditemukan di tempat lain.
Renungan hari ini mengajak kita untuk bertanya ke dalam hati: “Siapakah yang menjadi nomor satu dalam hidupku?”
Mengasihi Tuhan di Atas Segalanya
Tuhan harus menjadi pribadi yang paling kita cintai, melebihi pasangan, anak, orang tua, maupun pekerjaan kita. Hal ini bukan berarti kita dilarang menyayangi keluarga. Justru, Yesus mengajarkan bahwa jika kita benar-benar mengasihi sesama, kasih itu harus menjadi wujud nyata dari kasih kita kepada Tuhan.
Kesalahannya adalah ketika kita “menormalisasi” alasan untuk meninggalkan Tuhan. Kita sering membuat alasan seperti sibuk bekerja, urusan sekolah, arisan, atau pesta keluarga untuk absen dari perjumpaan dengan Tuhan. Padahal, jika untuk urusan hobi atau nongkrong kita bisa bertahan berjam-jam, mengapa untuk Ekaristi yang hanya sekitar 1,5 jam kita sering merasa tidak betah?. Ini adalah tanda bahwa Tuhan belum menjadi prioritas utama dalam hidup kita.
Menjadi Saksi yang Setia
Bagi kita yang sudah menerima Sakramen Krisma, kita telah dipilih untuk menjadi saksi Kristus. Meninggalkan Gereja berarti kita menyangkal tugas kesaksian itu, terutama keyakinan kita bahwa Ekaristi adalah sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Iman bukan sekadar label atau formalitas agar urusan administratif seperti surat baptis lancar, melainkan sebuah hubungan hidup dengan Tuhan yang nyata.
Menjadi orang beriman memang tidak mudah karena kita dipanggil untuk memikul salib dan mengikuti kebiasaan serta ajaran Yesus. Sering kali kita ragu karena berkat Tuhan tidak selalu terlihat instan seperti gaji atau notifikasi di ponsel. Namun, jika kita mau melihat lebih dalam, kesehatan, napas, dan kemampuan kita untuk berpikir adalah anugerah Tuhan yang sangat mahal harganya.
Janji Tuhan bagi yang Setia
Dalam bacaan tentang Nabi Elisa, kita melihat bagaimana sebuah keluarga yang melayani hamba Tuhan dengan tulus akhirnya diberkati dengan kehadiran seorang anak yang sudah lama mereka dambakan. Ini membuktikan bahwa Tuhan tidak membiarkan umat-Nya berkekurangan jika mereka benar-benar menyerahkan diri kepada-Nya.
Bahkan dalam kehidupan para pelayan Tuhan, seperti imam, janji ini nyata. Meskipun seorang pastor meninggalkan keluarga jasmaninya demi tugas perutusan, Tuhan menggantinya dengan berkat yang melimpah melalui umat-Nya, yang menjadi keluarga baru yang penuh kasih.
Penutup: Mengasihi Sesama melalui Tuhan
Jangan takut untuk menempatkan Tuhan sebagai yang utama. Mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu tidak akan membuat kita menjadi durhaka kepada orang tua atau mengabaikan anak. Sebaliknya, dengan mengasihi Tuhan sebagai prioritas, Tuhan akan memampukan kita untuk mengasihi sesama dengan lebih tulus dan penuh berkat.
Mari kita evaluasi kembali prioritas hidup kita. Semoga berkat-berkat yang sedang kita mohonkan dikabulkan oleh Tuhan, seiring dengan usaha kita untuk menjadikan-Nya yang pertama dan utama dalam setiap langkah kita.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.

