Jl. Pematang Siantar No.111, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut

Tritunggal Maha Kudus: Memeluk Kasih Allah Melalui Kuasa Pengampunan

Referensi: Homili RD Rafael H. Sirait

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, sebuah misteri iman yang sangat khas dalam Gereja Katolik di mana kita menghormati Allah yang satu dalam tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ajaran ini mungkin sulit diterima hanya dengan akal budi yang sederhana, karena misteri Tritunggal tidak cukup dipahami hanya dengan berpikir, melainkan membutuhkan keterbukaan hati untuk percaya.

Kasih Allah yang Menghadapi “Tegak Tengkuk” Manusia

Sejarah keselamatan menunjukkan betapa seringnya manusia bersikap keras kepala atau “tegak tengkuk” di hadapan Allah. Bangsa Israel, sebagai bangsa pilihan, berulang kali memprotes dan melawan Tuhan meskipun telah dibebaskan dari Mesir. Namun, di tengah ketidaksetiaan itu, Allah tetap memberikan kesempatan untuk bertobat dan memberikan pengampunan-Nya.

Puncak dari kasih ini adalah ketika Allah mengaruniakan Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan dunia melalui pengampunan. Inilah letak keistimewaan iman kita: Allah tidak hanya memberikan ajaran, tetapi Ia sendiri turun tangan untuk mengasihi dan mengampuni manusia yang berdosa.

Pengampunan yang Tak Terhingga: Belajar dari Yesus

Manusia sering kali memiliki batas dalam memaafkan, seperti ungkapan “dua kali disakiti masih kumaafkan, tapi jangan coba ketiga kali”. Namun, Yesus mengajarkan pengampunan yang tak terhingga—70 kali 7 kali—yang berarti tanpa batas.

Yesus memberikan teladan nyata dalam hidup-Nya:

  • Di atas Kayu Salib: Ia tidak mengutuk, melainkan berdoa, “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.
  • Kepada Petrus: Meskipun Petrus telah mengkhianati-Nya dengan mengatakan tidak mengenal-Nya, Yesus yang bangkit justru menyapanya dengan ucapan, “Damai bagimu”, tanpa mengungkit kesalahan masa lalunya.

Sebagai umat yang telah dibaptis dalam nama Tritunggal Maha Kudus, kita dipersatukan dengan Yesus. Ini berarti visi dan misi hidup kita harus sama dengan-Nya: jika Yesus mengampuni, maka kita pun harus mengampuni.

Mengapa Dunia Saat Ini Terasa “Kacau”?

Saat ini, kita melihat maraknya kasus pembatalan perkawinan, tingkat perceraian yang tinggi, KDRT, hingga hubungan yang renggang antara orang tua dan anak. Mengapa hal ini terjadi? Akar masalahnya sering kali adalah minimnya atau hilangnya semangat pengampunan dalam keluarga.

Ketika relasi sudah dipenuhi egoisme—di mana kita ingin diampuni oleh Tuhan tetapi enggan mengampuni sesama—di situlah kedamaian hilang. Kita sering berdoa “Bapa Kami”, memohon agar kesalahan kita diampuni “seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”, namun dalam praktiknya, kita sulit membuka pintu maaf.

Mengampuni Bukan Berarti Melupakan

Satu hal penting yang perlu kita pahami adalah bahwa mengampuni tidak sama dengan melupakan. Adalah hal yang manusiawi jika peristiwa menyakitkan atau pengkhianatan masih teringat dalam memori kita. Namun, kita dipanggil untuk melangkah lebih jauh: meskipun ingatan itu ada, kita memilih untuk tetap mengampuni. Jika kita mampu melupakan rasa sakit itu, anggaplah itu sebagai “bonus” dari Tuhan.

Penutup: Mengampuni untuk Membebaskan Diri

Mengampuni sesungguhnya bukan hanya membebaskan orang yang bersalah kepada kita, tetapi terutama membebaskan diri kita sendiri. Dengan mengampuni, kita dibebaskan dari beban pikiran dan hati yang membuat kita sulit melangkah maju dan merasakan damai sejahtera.

Mari kita mohon kuasa Roh Kudus agar memampukan kita yang terbatas ini untuk menjadi saluran kasih dan pengampunan Tuhan bagi sesama. Semoga kehadiran Tritunggal Maha Kudus dalam iman kita membawa keselamatan dan kedamaian yang sejati dalam perjalanan hidup kita.

Tuhan Memberkati.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel lainnya

Menjadi Sahabat Karib Yesus: Ekaristi sebagai “Makanan Favorit” Jiwa Kita

Referensi: Homili RD Rafael H. Sirat Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi anak-anak kami yang menerima Komuni Pertama, juga bagi Bapak dan Ibu...

Deepfake vs Jiwa Manusia: Lindungi Wajah dan Suara Kita Sebelum Menghilang

Penulis : Cynthia Margareth Saragih, Gereja Paroki(Lomba Menulis Opini - Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 - Komsos Keuskupan Agung Medan) Di dunia saat ini, di...

Homili di Era AI: Perlukah Imam Mengandalkan Kecerdasan Buatan?

Penulis : Realyta Deengel Sitindaon(Lomba Menulis Opini - Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 - Komsos Keuskupan Agung Medan) Perkembangan zaman ditandai dengan pertumbuhan revolusi industri...

Pentakosta: Menghidupi Bahasa Roh Melalui Karya Kasih Nyata

Hari Raya Pentakosta sering kali kita maknai sebagai peristiwa turunnya Roh Kudus yang memberikan karunia bahasa kepada para rasul. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud...
Daftar Isi