Berikan kepada Allah Apa yang Menjadi Hak Allah: Menjadi Pembawa Kebaikan di Tengah Dunia yang Rusak

0
509

Pernahkah timbul rasa muak dan pertanyaan mendalam di dalam batin kita saat menyaksikan begitu banyaknya ketidakadilan, korupsi, serta penderitaan terjadi di tengah masyarakat ? Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, kita telah berjuang menunaikan kewajiban dengan membayar pajak—baik ketika berbelanja kebutuhan di toko, membeli beras, maupun melalui potongan atas gaji yang kita terima. Namun, pemandangan oknum di pemerintahan yang duduk santai, mengabaikan tugas, serta mempertontonkan ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat sering kali membuat hati merasa terlukai. Bagi setiap umat beriman yang bekerja di ranah pemerintahan, perpajakan, maupun pelayanan publik, Sabda Tuhan menjadi seruan tegas agar senantiasa menggunakan hati nurani dan bekerja secara amanah sesuai dengan ajaran Injil.

Ketika menyaksikan bencana kebakaran lahan meluas beratus-ratus hektar, anak-anak serta lansia menderita ISPA hingga meninggal dunia, sementara oknum yang tidak bertanggung jawab justru berpesta dan tega mengorupsi dana bantuan bencana, muncul pertanyaan yang sering membayangi pikiran kita: "Di mana Tuhan? Apakah Tuhan tidak adil?". Padahal, Allah telah menganugerahkan negeri ini kekayaan alam, minyak, dan keindahan yang begitu melimpah bagaikan sepotong surga, di mana batang kayu ubi yang dicampakkan saja dapat tumbuh subur. Secara perhitungan matematis, di tanah yang teramat kaya ini tidak seharusnya ada rakyat yang melarat, kelaparan, atau terabaikan. Tuhan bukannya tidak mendengar doa atau menutup jalan, melainkan berkat dan pintu rezeki yang Allah sediakan sering kali diseruduk dan dicuri oleh manusia-manusia yang serakah. Sungguh tragis bahwa para pelaku kejahatan ini kemudian melempar dosa mereka dan menggiring masyarakat untuk menyalahkan Allah atas penderitaan yang terjadi.

Namun, di tengah kemuakan terhadap kejahatan dunia, kita diajak untuk berani mengintrospeksi diri agar jangan sampai kita sendiri ikut menjadi bagian dari budaya kejahatan tersebut. Tanpa disadari, kita pun kerap tercemar oleh perilaku yang tidak baik, seperti ikut dalam praktik suap saat pemilihan umum. Selain itu, benih keserakahan dan orientasi materi sering kali tanpa sadar ditanamkan kepada anak-anak sejak dini dalam keluarga, misalnya ketika membiarkan anak selalu meminta upah atau persentase saat membantu, serta mengajari mereka menilai kerabat berdasarkan besarnya uang yang diberikan.

Pembaruan hidup harus dimulai melalui pertobatan nyata dan pendidikan yang bijaksana di dalam rumah kita sendiri. Orang tua dipanggil untuk mendidik anak-anak dengan penuh cinta kasih dan kejujuran: membiasakan anak mengerjakan tugas sekolahnya secara jujur tanpa diambil alih oleh orang tua, mau mengakui kekurangan anak secara realistis, serta mendukung penuh jika anak memiliki panggilan khusus untuk menjadi imam atau biarawan-biarawati tanpa mengutamakannya untuk mengejar materi duniawi semata. Sabda Yesus untuk memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah menuntut kita untuk menolak menjadi bagian dari kejahatan dunia. Dengan memperbaiki karakter diri, aktif menyuarakan kebaikan dan keadilan, serta mendidik generasi penerus dalam kebenaran, kita sedang memuliakan Allah, memberikan apa yang menjadi hak-Nya, serta membawa pembaharuan yang nyata bagi bangsa dan sesama.


Kesimpulan

  1. Jujur dan Amanah dalam Tugas: Umat diajak memenuhi kewajiban sebagai warga negara dengan jujur, sementara mereka yang memegang amanah publik wajib bekerja memakai hati nurani.
  2. Allah Maha Baik, Manusia yang Serakah: Penderitaan dan kelaparan terjadi bukan karena Allah meninggalkan manusia, melainkan karena berkat Allah dicuri oleh manusia yang serakah.
  3. Pertobatan Dimulai dari Keluarga: Kita dipanggil membuang budaya keserakahan sejak dini dengan mendidik anak-anak dalam kejujuran, kerendahan hati, dan nilai-nilai moral yang benar.
  4. Memberikan Hak Allah Lewat Kebaikan: Menolak terlibat dalam kejahatan serta aktif menyuarakan kasih dan keadilan adalah bentuk nyata kita memberikan apa yang menjadi hak Allah.

Ya Bapa yang maharahim, kami bersyukur atas segala rahmat dan kelimpahan yang Engkau anugerahkan bagi kami dan bangsa kami. Ampunilah kami apabila di tengah penderitaan dan ketidakadilan dunia, kami sering ragu dan menyalahkan Engkau. Berilah kami keteguhan hati agar kami tidak ikut menjadi bagian dari keserakahan dan kejahatan dunia. Bimbinglah kami agar mampu mendidik keluarga kami dalam kejujuran, kerendahan hati, dan kasih yang sejati. Ajarilah kami untuk senantiasa memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah melalui pertobatan hidup, penegakan keadilan, dan kesetiaan kami dalam melayani sesama. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

RD Rafael Henra Wibowo Sirait
Homili Misa 18 Oktober 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini