Panggilan Menuju Kekudusan

0
185

Banyak orang membayangkan bahwa menjadi kudus adalah hal yang sangat rumit dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki catatan sejarah panjang dalam kanonisasi Gereja. Padahal, Paus Fransiskus dalam suratnya Gaudete et Exsultate—yang berarti Berbahagialah dan Bersukacita—mengingatkan bahwa Allah memanggil kita semua tanpa kecuali untuk hidup kudus. Panggilan ini ditegaskan dalam Firman Tuhan yang meminta kita hidup tidak bercela di hadapan-Nya serta menjadi kudus sebab Allah adalah kudus. Kekudusan ini bukanlah sesuatu yang jauh di awan-awan, melainkan hadir secara nyata dalam kesabaran kita sebagai orang tua, kesetiaan sebagai pasangan suami istri, serta ketekunan dan kejujuran dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Melalui Sakramen Baptis, kita telah dipersatukan dengan iman kepada Tritunggal Maha Kudus, dan hubungan ini terus diperbarui ketika kita merayakan Ekaristi. Kehadiran kita di gereja bukan karena kita merasa sudah suci, melainkan karena kesadaran akan dosa dan kerinduan untuk menikmati penebusan Kristus. Dalam Ekaristi, Tubuh Kristus menjadi makanan rohani yang tidak sekadar mengenyangkan fisik atau menambah kesehatan jasmani, melainkan memberikan sebuah misi utusan. Setelah menyantap perjamuan kudus, kita diutus kembali ke tengah dunia untuk menjadi saksi dan membawa kasih Kristus dalam tugas serta tanggung jawab kita.

Dalam perjalanan menuju kekudusan, ada dua godaan utama yang perlu kita waspadai. Godaan pertama adalah mengandalkan pengetahuan sendiri, di mana seseorang merasa cukup memahami ajaran iman secara intelektual sehingga mengabaikan kehadiran di gereja dan persekutuan. Godaan kedua adalah mengandalkan kekuatan, kehendak, dan ambisi pribadi seolah-olah kekudusan adalah hasil usaha sendiri. Ajaran Gereja mengingatkan bahwa rahmat Allah senantiasa melampaui akal budi dan kehendak manusia, di mana karunia tersebut berasal dari Tuhan, dipersembahkan untuk Tuhan, dan diwujudkan demi kebaikan sesama.

Melalui Sabda Bahagia dalam Khotbah di Atas Bukit, Yesus menawarkan ukuran kebahagiaan yang berbeda dengan pemahaman dunia. Tanda-tanda kekudusan sejati itu tampak saat kita memiliki kerendahan hati, menanggapi tantangan dengan kelembutan, mampu menangis dan berduka bersama sesama yang menderita, merindukan kebenaran Allah, bertindak penuh belas kasih, serta menjaga kesucian hati dari hal-hal yang melukai kasih. Menjalani hidup kudus tidak pernah berarti menjadi pribadi yang murung atau kehilangan kegembiraan, melainkan membawa sukacita sejati yang dapat dibagikan kepada orang lain. Dalam peziarahan ini, kita tidak berjalan sendirian karena kita dikuatkan oleh persekutuan orang-orang kudus, doa Bunda Maria, para malaikat, dan Kristus sendiri sang Domba Allah.

Sebagai kesimpulan, kekudusan adalah perjalanan persembahan diri yang dihidupi setiap hari melalui tindakan nyata, kesabaran, dan kasih di tengah keluarga maupun masyarakat. Kita tidak dipanggil untuk berjalan sendirian atau mengandalkan kekuatan diri sendiri, melainkan diutus membawa sukacita dan kedamaian Kristus bagi dunia.

Tuhan yang Maha Baik, bimbinglah kami agar mampu menghidupi panggilan kekudusan dalam tugas kami sehari-hari dengan penuh kesabaran, kerendahan hati, dan sukacita. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini