1. Ketika Manusia Merasa Kecewa kepada Tuhan
Dalam perjalanan hidup beriman, tidak sedikit umat Katolik yang mengalami perasaan kecewa kepada Tuhan. Rasa kecewa tersebut sering kali muncul ketika doa dan harapan tidak terpenuhi sesuai keinginan manusia, seperti saat belum mendapatkan pekerjaan, kehilangan anggota keluarga yang dicintai, atau ketika cita-cita hidup tidak tercapai. Ada pula yang merasa kecewa ketika sanak keluarga yang sakit tidak kunjung sembuh, atau ketika usaha dan harta benda yang telah diperjuangkan habis begitu saja.
Pastor Rafael membagikan kisah nyata tentang seorang bapak pengurus gereja yang rumahnya berada tepat di samping gereja. Bapak tersebut sebelumnya rajin berdoa, berpuasa, dan mengikuti novena, namun ia menjadi sangat kecewa kepada Tuhan dan berhenti ke gereja serta melarang istrinya beribadah setelah anaknya tidak lulus seleksi menjadi perwira. Meskipun demikian, putri kecilnya yang masih duduk di bangku SMP tetap setia dan rajin datang ke gereja. Sikap kecewa dan marah seperti ini sering kali timbul karena manusia merasa bahwa perhatian dan berkat Tuhan adalah hak mutlak yang harus terjadi sesuai dengan perhitungan dan rencananya sendiri.
2. Memahami Perumpamaan Kebun Anggur: Bekerja, Bukan Menguasai
Melalui perumpamaan tentang kebun anggur, Tuhan mengingatkan kita tentang hakikat hubungan kita dengan-Nya. Kebun anggur merupakan simbol dari Tuhan dan Kerajaan-Nya yang dipercayakan kepada manusia untuk dikelola dengan penuh tanggung jawab. Dahulu, bangsa Israel diberikan kesempatan untuk menggarap kebun anggur tersebut, namun karena mereka merasa sebagai bangsa pilihan yang berhak menguasai kebenaran dan bertindak tidak bertanggung jawab, kesempatan itu akhirnya diberikan kepada seluruh bangsa di dunia yang percaya kepada Yesus sebagai Kristus, yaitu Gereja.
Sebagai anggota Gereja, kita semua diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Namun, kita perlu waspada agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama dengan menganggap berkat Tuhan sebagai milik pribadi yang harus kita kuasai sepenuhnya. Kita adalah pekerja yang dipercayakan untuk menggarap kebun tersebut, bukan pemilik yang berhak menuntut dan memprotes aturan serta keterbatasan yang Tuhan berikan.
3. Menyadari Bahwa Segala Sesuatu Adalah Milik Tuhan
Sering kali rasa kecewa muncul karena kita lupa bahwa diri kita sendiri, kesehatan, kekayaan, pendidikan, pekerjaan, hingga usia dan kehidupan kita adalah milik Tuhan. Ketika kita tidak memperoleh pekerjaan yang diinginkan atau ketika kesehatan dan kekayaan kita berkurang, kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan dan milik-Nya.
Ketika Tuhan mengambil atau belum mengabulkan apa yang sangat kita inginkan, adalah hal yang wajar bagi kita untuk merasa sedih atau meneteskan air mata. Namun, menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk membenci atau kecewa kepada Tuhan adalah sikap yang tidak tepat, karena manusia tidak berhak mengklaim kebaikan dan berkat Allah sebagai penguasa tunggal atasnya.
4. Berserah Diri dan Menemukan Damai Sejahtera
Santo Paulus mengingatkan kita bahwa damai sejahtera yang sejati akan kita peroleh ketika kita mau berserah sepenuhnya kepada Tuhan, bukan sekadar mencari kesenangan sesaat. Dalam doa persembahan pada perayaan liturgi, terdapat ungkapan indah: “Semoga Engkau menyempurnakan yang tidak bisa kami sampaikan.”. Ungkapan ini mengajak kita untuk menyerahkan seluruh hati, pikiran, dan keinginan kita ke dalam tangan Tuhan.
Menyerahkan diri berarti membiarkan Tuhan yang mengatur hidup kita, dan bukan kita yang mencoba mengatur Tuhan sesuai kemauan kita sendiri. Ketika kita belajar berserah, kita akan menerima setiap peristiwa hidup dengan lapang dada dan menemukan kedamaian di dalam kehendak-Nya.
5. Tetap Setia Bekerja dalam Apapun Kondisi Kebun Anggur Kita
Setiap orang dipercayakan kondisi kebun anggur yang berbeda-beda oleh Tuhan. Ada pribadi yang diberikan kebun anggur dalam keadaan nyaman, sehat, kuat, penuh kegembiraan, dan berkecukupan. Namun, ada pula yang harus menggarap kebun anggur dari kondisi yang sangat sulit, memulai dari nol, atau memikul beban perawatan keluarga yang sangat berat.
Bagaimanapun keadaan kebun anggur yang sedang kita garap saat ini, ingatlah bahwa itu adalah kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk bekerja. Setiap orang yang bekerja dengan setia di kebun Tuhan pasti akan menerima upah-Nya. Bekerjalah dengan tekun, memohonlah kepada Tuhan apa yang benar-benar kita butuhkan, dan gunakanlah setiap karunia yang ada demi kebahagiaan kita, kebaikan bersama, serta demi keluhuran dan kemuliaan Tuhan.
Kesimpulan
- Segala Sesuatu Adalah Milik Tuhan: Kesehatan, kekayaan, pekerjaan, dan hidup kita adalah milik Allah, sehingga berkat-Nya adalah rahmat untuk dikelola, bukan hak mutlak untuk dikuasai.
- Bersedih Itu Wajar, Kecewa pada Tuhan Tidak Tepat: Merasa sedih saat menghadapi kegagalan adalah hal yang manusiawi, namun tidak seharusnya membuat kita berpaling atau kecewa kepada Tuhan.
- Penyerahan Diri Membawa Damai Sejahtera: Sebagaimana diajarkan Santo Paulus dan doa persembahan Gereja, damai sejati hadir saat kita menyerahkan seluruh keinginan kita dan membiarkan Tuhan yang mengatur hidup kita.
- Setia Menggarap Kebun Anggur Tuhan: Apapun kondisi hidup kita—baik dalam kelimpahan maupun kesulitan—mari tetap bekerja dengan setia di kebun Tuhan demi kebahagiaan kita, kebaikan sesama, dan kemuliaan Tuhan.
Ya Bapa yang maharahim, kami bersyukur atas kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk bekerja dan mengelola kebun anggur-Mu di dunia ini. Ampunilah kami apabila dalam perjalanan hidup ini kami sering kali merasa kecewa, marah, atau berkecil hati saat keinginan dan rencana kami tidak terpenuhi. Ajarilah kami untuk menyadari bahwa diri kami, kesehatan, kekayaan, dan seluruh kehidupan kami adalah milik-Mu semata. Berilah kami kerendahan hati agar tidak menguasai berkat-Mu secara egois, melainkan mengelolanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Sebagaimana doa persembahan Gereja-Mu, kami mohon: semoga Engkau menyempurnakan apa yang tidak bisa kami sampaikan. Kami serahkan seluruh hati, pikiran, dan keinginan kami ke dalam kehendak-Mu, agar kami memperoleh damai sejahtera yang sejati. Bantulah kami untuk tetap setia bekerja di kebun anggur-Mu dalam segala situasi, baik saat kami bersukacita maupun saat harus memikul beban yang berat, demi kebahagiaan kami, kebaikan sesama, serta keluhuran dan kemuliaan nama-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.





