Menghidupi Kehendak Allah dalam Relasi dengan Sesama dan Seluruh Ciptaan

0
147

Pernahkah kita sungguh-sungguh merenungkan, ke manakah arah cinta kasih yang kita hidupi setiap hari: apakah ia hanya berhenti pada kenyamanan diri sendiri, ataukah ia sungguh mengalir keluar untuk menyentuh sesama dan seluruh ciptaan Tuhan?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terkadang dikejutkan oleh ketulusan yang polos, seperti kisah seorang anak kecil yang bergegas memanggil seorang pastor untuk mendoakan anjingnya yang sedang sakit. Meskipun sakramen pengurapan orang sakit secara khusus diperuntukkan bagi manusia, ketulusan anak tersebut menyadarkan kita bahwa kerinduan akan belas kasih dan keselamatan sejatinya melingkupi seluruh ciptaan Tuhan. Ketika kita berbicara mengenai cinta kasih, kita sering kali terjebak dalam pemikiran yang abstrak atau mengambang. Padahal, hakikat cinta kasih yang sejati selalu menuntut kita untuk keluar dari egoisme diri sendiri dan tidak berpusat pada kepentingan pribadi semata.

Ketika seorang ahli Taurat datang dan bertanya kepada Yesus mengenai perintah mana yang terbesar di antara ratusan perintah dan larangan dalam hukum Taurat, Yesus menegaskan kembali inti dari seluruh ajaran iman: mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Dalam tradisi Gereja Katolik, Sepuluh Perintah Allah merangkum hukum kasih ini secara teratur. Tiga perintah pertama mengatur bakti dan kasih kita kepada Allah, sedangkan tujuh perintah berikutnya mengatur tata relasi sosial hidup manusia dalam bingkai persaudaraan. Perintah keempat, yakni menghormati orang tua, menjadi fondasi awal dari tata relasi sosial tersebut. Santo Agustinus mengingatkan bahwa orang tua menjadi sarana nyata bagi kita untuk memahami, menjalankan, serta mewariskan tata hidup bermasyarakat dan relasi iman kepada Allah.

Teladan cinta kasih yang paling sempurna telah ditunjukkan oleh Allah sendiri melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Allah tidak mempertahankan mahkota kemuliaan-Nya bagi diri-Nya sendiri, melainkan hadir di tengah manusia demi keselamatan kita. Peristiwa salib menjadi puncak pengorbanan Kristus yang membawa pendamaian dan pengampunan yang sangat mahal bagi umat manusia. Di atas kayu salib, Yesus memohon pengampunan bagi mereka yang menyalibkan-Nya, dan pengampunan inilah yang menjadi titik awal belas kasih dalam relasi sosial kita sehari-hari. Karena Allah begitu besar mengampuni kita, maka kita pun dipanggil untuk saling mengampuni dan membangun perdamaian dengan sesama.

Pengajaran Kitab Suci juga mengingatkan kita akan sejarah nenek moyang yang dahulu merupakan pengembara dan bangsa kecil yang diselamatkan oleh kemurahan hati Allah. Kesadaran sejarah ini hendaknya mendorong kita untuk tidak menindas orang lain, melainkan membangun solidaritas dan kepedulian nyata kepada mereka yang lemah, seperti kaum janda, anak yatim piatu, dan sesama yang terpinggirkan. Di tengah dunia saat ini, masih banyak saudara-saudari kita yang merasa diabaikan, disingkirkan, atau tidak memiliki suara. Namun, kasih Tuhan tidak pernah berhenti dan tidak pernah membuang siapa pun, sehingga kita dipanggil untuk menjadi saluran rahmat yang merangkul mereka.

Setiap kali kita berkumpul dalam Perjamuan Ekaristi di sekitar meja altar, kita dipersatukan dalam kurban Kristus dan menerima buah dari sengsara, wafat, serta kebangkitan-Nya. Di situlah kita mengalami kerahiman Allah yang melimpah dan diperbaharui untuk melanjutkan perutusan cinta kasih di tengah dunia.

Sebagai kesimpulan, hidup dalam kasih berarti bersedia keluar dari egoisme diri untuk membagikan belas kasih Allah kepada keluarga, sesama, khususnya mereka yang kecil dan tersingkir, serta menjaga seluruh ciptaan-Nya. Dengan meneladani pengorbanan dan pengampunan Kristus, kita diutus menjadi saksi kasih Allah yang tidak pernah berhenti merangkul siapa pun.


Doa Penutup

Allah Bapa yang Maharahim, kami mengucap syukur atas cinta kasih-Mu yang tanpa batas dan atas pengorbanan Putra-Mu, Yesus Kristus, yang telah mendamaikan kami dengan-Mu. Bukalah hati kami agar mampu keluar dari egoisme diri, mengasihi sesama dengan tulus, serta memberikan perhatian kepada saudara-saudari kami yang lemah dan terpinggirkan. Bimbinglah kami agar senantiasa menjadi pembawa damai dan pengampunan di tengah masyarakat. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini